Serba Serbi

Ini Makna dan Pentingnya Upacara Warak Kruron bagi Bayi yang Sudah Meninggal Dunia dalam Hindu Bali

Sedangkan Upacara ngelangkir adalah upacara bagi bayi yang meninggal dalam kandungan sampai sebelum lepas udel (kepus pusar)

AA Seri Kusniarti
Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti pada Jumat 8 Oktober 2021 

“Dengan adanya banyak permintaan untuk upacara warak kruron, ngelangkir, dan ngelungah. Kami dari Yayasan Pasraman Bhuwana Dharma Shanti Sesetan, akan melaksanakan upacara warak kruron, ngelangkir, ngelungah yang ke-4 kalinya,” sebut beliau.

Baca juga: Yadnya dan Kaitannya dengan Tri Rna dalam Hindu Bali

Upacara ini akan dilangsungkan pada Minggu 19 Desember 2021, pukul 05.00 WITA hingga selesai. Tempatnya adalah di pantai Padang Galak.

Upacara akan langsung dipuput oleh ida sulinggih, dengan sarana upakara bebantenan yang sesuai dengan upacara warak kruron, ngelangkir, dan ngelungah.

Peserta yang ingin ikut, hanya perlu menghaturkan punia upacara (biaya) Rp 750 ribu per sawa. Biaya ini sudah termasuk jatah makan bagi dua orang per satu sawa.

Selain warak kruron, ada pula rangkaian upacara ngelangkir. Yaitu upacara bagi bayi yang telah berada di dalam kandungan, yang masih dalam bentuk darah atau belum dalam bentuk janin.

“Sebab begitu tatkala seorang ibu dinyatakan positif hamil, maka dia sudah mengandung anak, yang berarti sang atma sudah berada di sana. Walaupun anak tersebut masih dalam bentuk darah,” jelas mantan jurnalis ini.

Oleh sebabnya, dipercayai bahwa sang atma sudah berada di dalam perut si ibu. Sampai dengan lahir, dan sebelum lepas tali pusar (udel), maka itu sudah dianggap hidup.

“Konsep zaman dahulu memang ada yang percaya tidak perlu diupacarai, karena bayi ini dianggap sebagai dewa,” kata beliau.

Kemudian apabila meninggal sebelum bayi tersebut kepus pusar (udel), maka keluarga dan orang tua si bayi dianggap tidak kasebelan. 

Akhirnya kala itu banten pun tidak ada, karena dianggap tidak cuntaka.

Biasanya bayi yang lahir sebelum kepus puser, maka bayi tersebut dikubur saja tanpa menggunakan upacara dan upakara yang lengkap layaknya ngaben.

Baca juga: Hadiri Upacara Rsi Yadnya Apodgala Dwijati, Bupati Badung Komit Ayomi Semua Golongan Masyarakat

“Tetapi seiring perkembangan zaman, dan dewasa ini banyak terjadi hal-hal yang tidak kita ketahui,” sebut beliau.

Antara lain ketika seorang ibu melahirkan dan anaknya meninggal, atau keguguran sebelum melahirkan.

“Percaya atau tidak, terjadi hal yang aneh. Ada yang sakit, ada yang usahanya selalu hancur, dan cekcok. Intinya semua tidak damai dalam hidupnya,” tegas beliau.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved