Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Banten Pangulapan Penting Dihaturkan Setelah Kecelakaan, Ini Cara Pembuatannya

Selain sebagai ucapan terimakasih atas segala karunia Tuhan, banten juga kerap digunakan sebagai sarana untuk menyelamatkan diri.

Penulis: Anak Agung Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
tribun bali/dwisuputra
Ilustrasi kecelakaan 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Umat Hindu di Bali sangat mempercayai, bahwa upacara dan upakara akan membantu keseimbangan alam semesta.

Selain sebagai ucapan terimakasih atas segala karunia Tuhan, banten juga kerap digunakan sebagai sarana untuk menyelamatkan diri.

Salah satunya banten pangulapan, yang kerap digunakan untuk mengembalikan roh orang pasca terjatuh atau kecelakaan.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, dari Gria Bhuwana Dharma Shanti, menjelaskan bahwa  tujuan upacara ngulapin adalah untuk mengembalikan roh ke badan.

Baca juga: Upakara Atau Banten, Berikut Makna dan Fungsinya Menurut Kepercayaan Hindu Bali

Khususnya bagi manusia yang mengalami kecelakaan atau terjatuh.

“Ketika seseorang terjatuh, banten pangulapan berisi tulung sayut, sanggah urip, dan sebagainya,” sebut beliau kepada Tribun Bali, Senin, 27 Desember 2021.

Dalam kepercayaan Hindu, apabila ada yang terjatuh dari sepeda, atau kecelakaan motor dan mobil maka rohnya akan tertinggal di lokasi kejadian.

Sehingga korban yang terjatuh, biasanya akan mengalami sakit atau linglung. Bahkan ada yang cukup lama baru bisa sembuh.

Akhirnya untuk mengembalikan roh ini diperlukan banten pangulapan.

Sehingga korban bisa pulih seperti sediakala, dan mendapatkan kembali kesehatannya.

Berikut alat dan bahan banten yang diperlukan untuk banten pangulapan.

Tetandingannya di atas alas nyiru atau kapar yang di atasnya berisi taledan.

Nasinya dengan 11 buah tumpeng kecil, lalu 11 buah untek kecil, kojong rangkadan. Sebuah daksina, anaman kelanan, sodan kecil.

Persiapkan pula pabresiyan payasan, dan tulung sayut. Sampiannya, yakni dua sampian pusung, dua gantung-gantungan, dua asap, padma dan coblong, panyeneng dan sesedep, serta sebuah sangaurip mekamben.

Baca juga: Daksina atau Banten, Cara Mendekatkan Diri dengan Tuhan Dalam Hindu 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved