Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

Siwaratri Tahun 2022 Jatuh Pada Tanggal 1 Januari 2022, Simak Makna Penting Perayaan Siwaratri

Hindu di Bali menganut paham Siwa Sidanta, sehingga Dewa Siwa menjadi figur suci yang sangat penting selain Dewa Wisnu dan Dewa Brahma

Tayang:
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Karsiani Putri
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ilustrasi- Umat Hindu yang tengah bersembahyang 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hindu di Bali menganut paham Siwa Sidanta, sehingga Dewa Siwa menjadi figur suci yang sangat penting selain Dewa Wisnu dan Dewa Brahma.

Salah satu hari paling baik memuja beliau adalah Siwaratri

Siwaratri adalah hari suci, hari dimana malam payogan Dewa Siwa.

Sejatinya Dewa Siwa selalu beryoga setiap bulan, yakni pada Purwani Tilem.

Perbedaannya, untuk perayaan Siwaratri dirayakan setiap tahun. 

Baca juga: Pengertian Yadnya dan Panca Yadnya Dalam Hindu di Bali 

Baca juga: Ngereh dan Kerauhan, Mengapa Penting Dilakukan Dalam Hindu di Bali

Siwaratri jatuh pada panglong ping 14, sasih magha krsna paksa atau sasih Kapitu sesuai perhitungan dalam kalender Hindu.

Payogan Dewa Siwa ini, juga harusnya diikuti oleh umat Hindu khususnya di Bali. 

Sebagai pengendalian diri dengan tapa brata dan yoga semadi.

Sehingga mampu menuju kesucian, sesuai ajaran agama dalam perjalanan spiritual menuju keseimbangan dan kerahayuan lahir batin. 

Dalam Kakawin Siwaratrikalpa, disebutkan beberapa hal yang harus dilakukan saat malam Siwaratri.

Salah satunya yang paling dikenal adalah dengan tetap melek atau jagra. 

Hal ini dijelaskan dalam Siwaratri Kalpa bait 37.2. Bunyinya, ri sampun i telas rahina ring wengi wiyata matangnya tan mrema/bhatara siwalingga kewala sirarcanan i dalem ikang suralaya/kumara nguniweh gajendrawadana ng ruhunanan sira kapwa pujanen/rikang rajani yama pat gelarana krama nira manuta ng sakabwatan. 

Kutipan artinya, setelah siang hari berlalu pada malam harinya patut melek jangan sekali-kali tidur/selalu memuja Sang Hyang Siwa dalam perwujudan Siwalingga yang bersemayam di alam Siwa/ didahului dengan memuja Hyang Siwa dan Hyang Gana pada malam harinya melakukan yamapat yang disesuaikan menurut batas kemampuan. 

Sehingga pada malam Siwaratri diupayakan jangan tidur, namun yoga semadi memuja Dewa Siwa juga Dewa Gana.

Sebagai upaya menggembleng diri menuju sifat sifat Sattwam.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved