Berita Bali
Sukmawati Soekarnoputri Mahir Menari Topeng Keras Khas Bali
Putri keempat mantan Presiden Soekarno ini, bahkan bisa menarikan topeng keras khas Bali. Yang biasanya tarian topeng, khususnya topeng keras ini
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Biasanya saat perayaan kemerdekaan RI, pada 17 Agustus maka akan dibarengi dengan malam kesenian.
"Jadi pasti putra-putri pak Soekarno akan tampil menari. Nah termasuk saya juga menari. Dan saya mengalami ini setiap tahun," katanya.
Sukmawati juga menari tatkala ada tamu-tamu negara, yang bertemu dengan Presiden Soekarno di masa lampau.
Hal inilah yang membuat ibunda dari GPH Paundrakarna Sukmaputra Jiwanegara ini, akhirnya menjadi penari profesional.
Begitu tamat sekolah menengah atas, ia kemudian masuk ke akademi tari yang baru saja didirikan.
Yakni di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) di Taman Ismail Marzuki. Sukmawati juga sering tampil pentas di LKB Saraswati.
"Kemudian di kelas Bali itu, dosen menanyakan kepada saya mau menari Bali yang mana," katanya.
Kemudian di sinilah, Sukmawati memilih dan tertarik dengan tarian topeng dari Bali.
"Saya juga terpengaruh oleh tokoh dari Karangasem, yang terkenal sebagai pelopor tarian baris pertama kali ditarikan wanita," ujarnya.
Kemudian dosennya mengarahkan agar Sukmawati langsung belajar ke Bali, yaitu ke almarhum I Nyoman Kakul di Kokar.
"Saya belajar dengan beliau, beberapa karakter tarian topeng," imbuhnya. Jadi mondar-mandir Bali-Jakarta hingga akhirnya ia dinyatakan lulus dan bisa menari topeng.
Sukmawati mengaku sangat senang menari tarian topeng keras ini.
Baca juga: Ciptakan Tarian untuk PAUD dan TK, Ni Made Ruastiti Jadi Guru Besar Perempuan Pertama ISI Denpasar
"Saya kira saya wanita pertama kala itu yang bisa dan mau menari topeng, karena tidak banyak wanita atau gadis kala itu yang mau menari topeng," ujarnya.
Semua itu sangat memengaruhi kehidupan dan jiwa Sukmawati dalam kesehariannya, termasuk akhirnya ia memutuskan untuk memeluk Hindu.
Kini Sukmawati menggagas studio inspirasi, sebagai penyambung impiannya yang tertunda dalam kesenian tari.