Berita Klungkung

Terumbu Karang di Crystal Bay dan Toya Pakeh Klungkung Rusak Akibat Diterjang Banjir Bandang

luasan terumbu karang yang rusak akibat banjir bandang di pesisir Toya Pakeh seluas sekitar 50 are. Sementara di Toya Pakeh luasan yang rusak mencapai

Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Noviana Windri
Istimewa
Upaya rehabilitasi trumbu karang di Nusa Penida belum lama ini. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Musibah banjir bandang yang terjadi di Nusa Penida, Senin 133 Desember 2021 lalu tidak hannya merusak infrastruktur, namun juga merusak keberlangsungan trumbu karang di pesisir.

Hal ini lantaran berbagai material seperti lumpur, hingga pepohonan sempat terbawa banjir, hingga menerjang wilayah pesisir di Nusa Penida.

Ketua Kelompok Nuansa Pulau yang bergerak di bidang konservasi trumbu karang, I Komang Karyawan menjelaskan, kerusakan terumbu karang akibat dari terjang banjir banjang terjadi di pesisir Crystal Bay di Desa Sakti dan pesisir Toya Pakeh.

Dari hasil pengecekan, luasan terumbu karang yang rusak akibat banjir bandang di pesisir Toya Pakeh seluas sekitar 50 are. Sementara di Toya Pakeh luasan yang rusak mencapai 10 are.

“ Kerusakan terumbu karang di Crystal Bay dan Toya Pakeh ini karena faktor alam. Kerusakan terutama pada karang acropora,” ungkap Karyawan, Selasa 1 Februari 2022. 

Baca juga: Trumbu Karang di Crystal Bay Rusak Diterjang Banjir Bandang, Pemulihan Bisa Puluhan Tahun

Baca juga: Pasca Diterjang Banjir Bandang, Destinasi Wisata Crystal Bay di Nusa Penida Berangsur-angsur Pulih

Ia menjelaskan, kerusakan terumbu karang terjadi akibat banjir bandang membawa berbagai material seperti lumpur, pasir, sampah, hingga pepohonan ke pesisir. Material itu sempat menerjang, hingga menutupi areal terumbu karang. Sehingga terumbu karang di dua wilayah itu rusak dan harus segera mendapatkan upaya rehabilitasi.

“Sebenarnya terumbu karang tidak bisa hancur, tapi rusak karena sempat tertutup material banjir dari daratan. Justru pemulihannya lama, mungkin puluhan tahun lagi,” jelasnya.

Upaya restorasi terhadap terumbu karang yang rusak rencananya akan dilaksanakan di Crystal Bay, bersama dengan para penyelam di Nusa Penida.

Hanya saja saat ini upaya restorasi terumbu karang itu terkendala boat.

“Kami sudah berencana melakukan rehabilitasi trumbu karang di Crystal Bay, bersama dengan para penyelam di Nusa Penida. Kami sudah siap bibit terumbu karang dan mediaya. Hanya saja saat ini kami saat ini terkendala biaya untuk boat, untuk membawa bibit dan media itu sampai ke kawasan terumbu karang di Crystal Bay,” jelasnya.

Sebagai kelompok swadaya masyarakat, segala aktivitas dari kelompok  Nuansa Pulau ini mengaandalkan dukungan dari LSM lain yang bergerak di bidang konservasi trumbu karang, seperti CTC (Coral Triangle Centre) dan Ocean Gardener. (Mit)

Trumbu Karang Jadi Komuditas Eksport

Sebelumnya, perwakilan kelompok pecinta trumbu karang Nuansa Pulau, I Nyoman Karyawan dan I Nyoman Widana bertemu dengan Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta, Kamis (27/1). Mereka memaparkan potensi dari kondisi terumbu karang di Nusa Penida, dan potensinya untuk dibudidaya kedepannya.

I Nyoman Widana menjelaskan, saat ini dirinya melihat adanya penurunan dalam upaya pelestarian terumbu karang di Nusa Penida. Terlebih pasca adanya pengalihan kewenangan KKP (Kawasan Konservasi Kelautan) Nusa Penida.

" Seperti upaya transplantasi terumbu karang, kegiatan sosialiasi terkait konservasi perairan semakin jarang. Bahkan ada beberapa lokasi yang trumbu karangnya rudak bahkan menghilang," ujar Nyoman Widana, Kamis (27/1).

Baca juga: Wisatawan Italia Ditemukan Terombang-ambing di Perairan Crystal Bay Nusa Penida

Baca juga: BREAKING NEWS: Jenazah WNA Italia Ditemukan Mengapung di Crystal Bay

Atas hal ini, pecinta trumbu karang ini sudah melakukan upaya transplantasi terumbu karang di Desa Ped  dengan panjang 5.700 meter dan lebar rata rata 65 M (37,05 Ha). Setidaknya ada sekitar 50.000 bibit terumbu karang yang dikembangkan untuk keselamatan biota laut.

"Kami juga melihat, kedepan trumbu karang ini memiliki potensi ekonomi baru, karena merupakan komoditi ekport. Inilah yang tadi kami sampaikan ke bupati," ungkap Widana.

Namun menututnya tidak bisa sembarangan untuk menjadikan trumbu karang sebagai komoditi ekport. Terumbu karang tidak boleh diambil sembarangan. Jika untuk komoditi ekport, harus dari kegiatan budi daya, serta sudah mendapatkan izin dan pengawasan ketat dari intansi yang berwenang.

Apalagi menurutnya, trumbu karang di Nusa Penida memiliki tingkat ketahanan yang tinggi dan warna yang cerah.

" Dengan budi daya, selain melestarikan trumbu karang juga bisa jadi potensi ekonomi," terangnya.

Selain budidaya, kelompok ini juga mengusulkan untuk dibuatnya kawasan taman karang sebagai destinasi wisata bahari.

" Jadi nantinya bisa jadi kawasan pusat pembibitan karang, budidaya rumput laut serta edukasi dan penelitian," timpal I Nyoman Karyawan. (mit)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved