Berita Nasional
LPSK Ungkap Kondisi Psikologis Penghuni Kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif
LPSK menjelaskan kondisi psikologis dari salah satu penghuni kerangkeng di kediaman Bupati Langkat Nonaktif, Terbit Rencana Perangin Angin.
Penulis: I Putu Juniadhy Eka Putra | Editor: Karsiani Putri
TRIBUN-BALI.COM – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menjelaskan kondisi psikologis dari salah satu penghuni kerangkeng di kediaman Bupati Langkat Nonaktif, Terbit Rencana Perangin Angin.
Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu menyebutkan jika terdapat salah satu penghuni kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif yang telah ditahan selama 4 tahun.
Meskipun begitu, tahanan tersebut mengungkapkan jika dirinya tidak merasa menjadi korban.
Baca juga: BEGINI Kesaksian 2 Ahli Gizi di Kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif, Sebut Makanan Penghuni Bergizi
Baca juga: FAKTA BARU: LPSK Sebut Ada Dugaan Polisi Membiarkan Kerangkeng Milik Bupati Langkat Nonaktif
Baca juga: Penerbangan Garuda Indonesia dari Narita Jepang Besok Jadi Kedatangan Internasional Pertama ke Bali
"Jadi ada yang selama empat tahun di dalam tahanan tapi nggak merasa jadi korban. Orang, di dalam waktu lama berada di pembatasan mereka, tidak merasa menjadi korban seolah-olah diperlakukan secara baik-baik," kata Edwin dikutip Tribun-Bali.com dari KOMPAS.TV pada Rabu, 2 Februari 2022 dalam artikel berjudul Penghuni Kerangkeng Tak Merasa Jadi Korban Meski Ditahan 4 Tahun, LPSK: Bupati Ini Orang Berpengaruh.
Status Terbit Rencana Pernagin Angin Jadi Faktor Kondisi Psikologis Penghuni
Menurut Edwin kondisi psikologis penghuni kerangkeng mengalami demikian karena terdapat faktor sosial mengenai status Terbit Rencana Perangin Angin.
Diketahui, Terbit Rencana Perangin Angin selain menjabat sebagai Bupati Langkat, ia juga merupakan seorang pengusaha.
Baca juga: BEGINI Kesaksian 2 Ahli Gizi di Kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif, Sebut Makanan Penghuni Bergizi
Tak hanya itu, Terbit Rencana juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila di Medan sejak 1997.
Hal inilah, kata Edwin, yang kemudian membuat orang menjadi enggan untuk berterus terang terkait dengan kasus ini.
Edwin menambahkan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai ancaman terhadap mantan penghuni maupun keluarga kerangkeng milik bupati yang terjerat OTT KPK pada 19 Januari lalu itu.
Baca juga: Jubir Bupati Langkat Non Aktif Bantah Tudingan Penghuni Kerangkeng Meninggal Disiksa: Heran Saya
"Mereka sejauh ini belum bilang ancaman, tekanannya kaya apa. Tetapi ada situasi sosial yang saya gambarkan, bupati ini orang berpengaruh baik di ormas, pengusaha, dan pejabat daerah. Dengan membaca suasana batin di sana memang berat untuk terang-terangan di depan publik, perlu pendekatan,” ucap Edwin.
Lebih lanjut, Edwin mengatakan, keberadaan kerangkeng di rumah Bupati Langkat nonaktif yang berusia 10 tahun merupakan bukti adanya pembiaran dari aparat dan pejabat publik setempat.
Baca juga: BEGINI Kesaksian 2 Ahli Gizi di Kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif, Sebut Makanan Penghuni Bergizi
Baca juga: Penerbangan Garuda Indonesia dari Narita Jepang Besok Jadi Kedatangan Internasional Pertama ke Bali
Hal itu semakin diperkuat dengan adanya sebuah video yang diunggah oleh istri Terbit Perangin Angin yang menunjukkan kunjungan dari Dinas Informasi dan Komunikasi setempat.
Di sisi lain, juga ada laporan dari keluarga korban yang mengatakan ada rekomendasi rehabilitasi oleh pihak kepolisian di rumah Terbit Perangin Angin.
"Kalau pembiaran itu menurut kami sudah pasti, kalau enggak ada pembiaran enggak mungkin 10 tahun. Ini bukan tidak ada yang tahu,” ucap Edwin.
“Tadi dari rekomendasi itu polisi tahu, kemudian ada dokter yang memeriksa itu dokter puskesmas, video tentang kunjungan Dinas Informasi dan Komunikasi yang melihat langsung kerangkeng itu.”
Duah Ahli Gizi di Kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif Tak Terima, Sebut Makanan Penghuni Bergizi
Kedua wanita yang bertugas di kediaman Bupati Langkat Non Aktif di Desa Raja Tengah, Kecamatan Kuala yakni Rudiyanti dan Rupunih membantah jika para penghuni kerangkeng manusia yang diduga pecandu narkoba miliki Bupati Langkat Nonaktif hanya diberikan dua kali.
Baca juga: FAKTA BARU: LPSK Sebut Ada Dugaan Polisi Membiarkan Kerangkeng Milik Bupati Langkat Nonaktif
Baca juga: BEGINI Kesaksian 2 Ahli Gizi di Kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif, Sebut Makanan Penghuni Bergizi
Baca juga: Penerbangan Garuda Indonesia dari Narita Jepang Besok Jadi Kedatangan Internasional Pertama ke Bali
Menurutnya, Rudiyanti dirinya menyediakan sebanyak 3 kali sehari.
"Kami sekeluarga kecewa karena dibilang makannya cuman dua kali. Padahal, kami menyediakan 3 kali makan," katanya.
Bahkan, kata dia orang yang mendekam di kerangkeng tersebut juga meminta makan lebih kepadanya.
"Bahkan, mereka itu minta makan lagi kepada kami. Kami kasih, kenapa di media dibilang hanya dua kali," ungkapnya dikutip Tribun-Bali.com dari Tribun-Medan.com pada Rabu, 2 Februari 2022 dalam artikel berjudul Ini Dia Kesaksian Dua Wanita Penyedia Makanan Penghuni Kerangkeng Bupati Langkat.
Sebut Makan Penghuni Penjara Bergizi
Lebih lanjut, Rudiyati mengungkapkan jika dirinya telah bekerja sebagai ahli gizi di kerangkeng penjara miliki Bupati Langkat Nonaktif selama enam bulan belakangan.
"Kami tidak terima, makanan mereka juga yang bergizi," ungkapnya.
Untuk hari Minggu, Senin, Selasa dan Rabu ia memberikan makanan ikan basah. Kemudian, Kamis tahu dan Tempe.
"Hari Jumat daging, kemudian hari Sabtu telur ayam," ungkapnya.
Baca juga: TERKINI: Polda Sumut Temukan Makam Penghuni Kerangkeng Manusia Bupati Langkat Nonaktif
Istri Terbit Rencana Peranginangin, Tiorita marah kepadanya bilamana memberikan makanan tidak sehat kepada penghuni kerangkeng.
"Kalau makanan ikan kemasan, ibu Tiorita langsung marah. Orang itu sakit harus dikasih makanan yang sehat," ucapnya.
Selain itu, kata dia Terbit dan istrinya juga memakan makanan sama, yang dimasak untuk penghuni kerangkeng.
"Makanan yang kami buat untuk pecandu juga dimakan oleh pak Terbit dan keluarga," ujarnya.
Sementara itu, Rupinih yang sudah 18 tahun bekerja dengan Terbit, juga menyatakan hal senada.
Di mana, selama memberikan makanan kepada para penghuni kerangkeng, tidak ada ikan ataupun sayur yang busuk. Semua, kata dia dalam keadaan segar.
Baca juga: BEGINI Kesaksian 2 Ahli Gizi di Kerangkeng Bupati Langkat Nonaktif, Sebut Makanan Penghuni Bergizi
"Saya sudah 18 tahun, dan memasak kepada mereka. Makanan bergizi. Sayur juga yang segar," ucapnya.
Rupinih juga mengaku, memberikan makan tiga kali sehari kepada para penghuni kerangkeng.
Kata Pengawas Kerangkeng Manusia
Sementara itu, pengawas tahanan, Suparman Perangin-angin, membantah terdapat perbudakan modern terhadap orang-orang yang ditahan di kerangkeng milik Bupati Langkat.
Baca juga: KOTOR dan Tak Manusiawi! Begini Kondisi Toilet di Kerangkeng Berjeruji Milik Bupati Langkat Nonaktif
Ia mengatakan, orang-orang yang ditahan di dalam kerangkeng tersebut akan dipekerjakan di kebun sawit sesuai keahlian.
"Kalau diberitakan seperti di TV, ada perbudakan modern tidak benar”.
"Jadi di sini mereka dibina berdasarkan keahlian mereka."
"Misal dia punya bengkel las, kalau memungkinkan, dia akan dikaryawankan (di perusahaan sawit milik Bupati nonaktif Langkat)," dikutip Tribun-Bali.com dari Tribunnews.com pada Rabu, 2 Februari 2022 dalam artikel berjudul Pengakuan Penyedia Makanan dan Pengawas soal Kerangkeng Manusia di Rumah Bupati Langkat.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/penja123.jpg)