Berita Badung
Ritual Ngerehang di Desa Adat Legian, Lampu Padam dari Jalan Hingga Rumah
Sejak pukul 20.00 Wita, ruas jalan Kelurahan Legian, Kuta, Bali yang bisanya terang jadi gelap.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Sejak pukul 20.00 Wita, ruas jalan Kelurahan Legian, Kuta, Bali yang bisanya terang jadi gelap.
Seluruh lampu penerangan dimatikan. Akses jalan pun ditutup.
Pemadaman lampu tak hanya di jalan, tapi juga sampai rumah warga.
Ini agar tercipta suasana hening dalam ritual Ngerehang Pelawatan Rangda Tiga dan Ida Ratu Ayu, Kamis 3 Februari 2022.
Baca juga: Desa Adat Legian Akan Gelar Upacara Ngerehang, Lakukan Penutupan Jalan Hingga Matikan Semua Lampu
Prosesi mulai digelar di Setra Desa Adat Legian.
Pukul 24.00 Wita prosesi pelawatan dilakukan hingga berakhir di Pura Agung Desa Legian.
Bendesa Desa Adat Legian, Anak Agung Made Mantra mengatakan, ritual Ngerehang atau Mesuci Laksana dipusatkan di setra atau kuburan desa adat.
"Itu prosesnya sudah melalui sejumlah tahapan. Hari ini (Kamis) merupakan puncak acara yang sudah dilaksanakan mulai pagi hari," ujar Mantra.
Ia menjelaskan, makna upacara ini adalah untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar memberi panugrahan dan kekuatan untuk alam semesta yang diwujudkan dalam petapakan atau sesuhunan.
"Ini sebagai permohonan keselamatan, kerahayuan, dan kesejahteraan bhuana agung dan bhuana alit di Legian khususnya, dan di Bali pada umumnya serta di nusantara secara global," kelas Agung Mantra.
Untuk mereka yang terlibat dalam prosesi ini merupakan orang-orang yang disiapkan berdasarkan wahyu.
Ini tentu, kata dia, tidak bisa sembarangan karena sudah ada orang-orang khusus yang melakoni ritual suci ini.
Dalam pelaksanaannya, ia mengakui prosesi ini tidak tentu waktunya karena tergantung pawuwus, pawisik atau sabda lewat krama yang terpilih.
Baca juga: Selain Rekayasa Lalin, Ngerehang di Desa Adat Legian Akan Padamkan LPJ mulai pukul 19.00-05.00 Wita
"Biasanya mereka yang menjadi penyungsung tapakan ini yang menerima pawuwus," ungkapnya.
Mereka yang terlibat dalam prosesi ini diupacarakan dulu melalui prosesi madengen-dengen, mejaya jaya.
Ini memiliki makna agar dalam menjalankan prosesi untuk ritual negerehan, mendapatkan keselamatan dan kerahayuan. (zaenal nur arifin)
Kumpulan Artikel Badung
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/prosesi-ritual-ngerehang-di-perempatan-jalan.jpg)