Serba Serbi

Malukat di Merajan dan Genah Panglukatan, Apa Bedanya?

Biasanya malukat dilakukan di geria yang ada sulinggih, atau di merajan dan sanggah sendiri. Bisa pula mendatangi pura yang ada genah panglukatannya

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
genah panglukatan di Pura Mangening Tampaksiring, sebagai salah satu lokasi alternatif malukat di Bali. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Malukat adalah salah satu ritual yang tidak bisa lepas dari masyarakat Hindu di Bali.

Malukat secara garis besar adalah pembersihan diri, dari hal negatif baik bersifat sekala (nyata), maupun niskala (tidak nyata).

Biasanya malukat dilakukan di geria yang ada sulinggih, atau di merajan dan sanggah sendiri. Bisa pula mendatangi pura yang ada genah panglukatannya.

Biasanya pura yang ada genah malukatnya, berisi sumber mata air dari tanah, batu, atau sumber mata air lainnya baik laut, gunung, hingga campuhan (pertemuan antara dua aliran air).

Baca juga: Malukat, Berikut Filosofinya Dalam Hindu Bali 

Namun hingga saat ini, ada saja fenomena orang yang tidak percaya malukat di pura atau genah malukat di luar merajan dan sanggah.

Hal tersebut dipertanyakan seorang netizen, dengan mengirim email ke redaksi Tribun Bali.

Dikonfirmasi kepada Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, beliau menjelaskan dengan sangat diplomatis.

Beliau yang berdiam di Griya Bhuwana Dharma Shanti, Sesetan, Denpasar tersenyum dengan pertanyaan netizen ini.

Sebagai seorang wiku, yang juga kerap membantu umat malukat di griya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved