APARTEMEN Termahal di Jakarta, Harga Per Meter Perseginya Rp 150 Juta
Harga per meter persegi apartemen mewah termahal di Jakarta saat ini setara dengan satu unit rumah subsidi.
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Kehidupan di Jakarta memang mencengangkan.
Setelah dinobatkan sebagai kota terpadat di Asia Tenggara, Jakarta juga mencatat rekor harga apartemen mahal.
Bahkan, harga per meter persegi apartemen mewah termahal di Jakarta saat ini setara dengan satu unit rumah subsidi.
Ya, harganya selangit.
Baca juga: JAKARTA Jadi Kota Terpadat di Asia Tenggara, Medan Nomor 11
Menurut riset Leads Property Indonesia, Keraton at The Plaza yang berada di Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, menempati posisi paling atas.
Harga terbarunya saat ini sudah menyentuh angka Rp 150 juta per meter persegi, atau setara rumah subsidi di Pulau Jawa (minus Jadebotabek).
Oleh karena itulah, apartemen mewah bukanlah barang yang cocok dijadikan sebagai instrumen investasi, melainkan simbol prestasi sekaligus prestise alias gengsi.
Baca juga: Pariwisata Bali Mulai Bangkit, Kamar Apartemen di C21 Coffee & Spa Denpasar Sudah Penuh Dibooking
Kenapa? Karena harga apartemen mewah sulit untuk merangkak naik lagi. Kalaupun ada pertumbuhan, tak akan lebih dari lima persen.
Terlebih dalam kondisi sekarang, saat orang-orang tajir melintir lebih suka mengamati, seraya menunggu kalau-kalau ada pengembang yang menawarkan produk dengan keistimewaan, dan kemewahan lebih dari yang telah dimiliki.
Associate Director at Leads Property Indonesia Martin Hutapea menuturkan, pasar apartemen mewah memang merupakan niche market. Bukan produk massal yang didorong oleh pasar alias market driven.
"Dan hingga akhir tahun harga tidak akan berubah, karena levelnya sudah mahal sekali," kata Martin kepada Kompas.com, Rabu (16/2/2022).
Apa yang membuat apartemen Keraton at The Plaza hanya bisa dijangkau oleh mereka yang sudah merdeka secara finansial?
Martin menjawab, selain karena lokasi yang memang super-premium, berada di pusat bisnis dan dekat pusat pemerintahan, juga masuk kategori secondary sebagai aset yang dihuni.
Faktor lainnya, sudah barang tentu adalah kualitas material bangunan, fasilitas, pengelolaan, dan juga tawaran kehidupan privasi.
Para penghuni apartemen ini sudah membekali dirinya dengan pengetahuan tentang siapa tetangga kiri, kanan, atas, dan bawahnya.