Invasi Rusia Ke Ukraina
Rusia Invasi Ukraina, Begini Tanggapan Netizen Korea Selatan: Denuklirisasi Korea Utara Makin Sulit
Kehebohan akibat invasi Rusia terhadap Ukraina juga menjadi pembahasan utama di Korea Selatan. Berikut ulasannya.
Penulis: Putu Kartika Viktriani | Editor: Putu Kartika Viktriani
TRIBUN-BALI.COM - Kabar yang menggemparkan seluruh dunia telah tersebar pada 24 Februari 2022 setelah Rusia secara resmi memulai invasi skala penuh ke Ukraina.
Para pemimpin dunia mengutuk serangan Rusia yang "tidak beralasan dan tidak dapat dibenarkan" terhadap negara tetangga itu.
Presiden Rusia Vladimir Putin pun memperingatkan agar negara lain tidak ikut campur.
Ledakan dilaporkan telah terjadi di banyak kota dan pangkalan militer Ukraina.
Serangan ini semakin meningkatkanspekulsi bahwa konflik bisa saja mengarah pada perang dunia.
Semua warga desa di seluruh dunia pun gelisah saat mereka menyaksikan semua ini terungkap.
Baca juga: Pelatih AC Milan Sebut Rossoneri Bahas Perang Rusia Vs Ukraina Jelang Lawan Udinese: Kami Khawatir
Dilansir Tribun-Bali.com dari Allkpop, Korea Selatan juga merupakan salah satu negara yang sangat terpukul dengan berita mengejutkan ini, karena banyak yang berharap ini tidak meningkatkan Perang Dunia III.
Masalah antara Ukraina dan Rusia mungkin memiliki bobot lebih di semenanjung Korea karena berbagi perbatasan darat dengan Rusia.
Faktanya, krisis Ukraina telah menginformasikan realitas baru keamanan masa depan Korea Selatan dan Korea Utara.
Serangan Rusia yang dikonfirmasi ke Ukraina sekarang merusak upaya denuklirisasi Korea Utara, membuat Korea Selatan prihatin dengan perjanjian gencatan senjata yang dibuat pada tahun 1953 yang membentuk Zona Demiliterisasi Korea (DMZ).
Menurut National Geographic, sejarah Perang Korea berakar dari pendudukan Jepang di Korea selama 1910-1945.
Ketika Perang Dunia II berakhir dan Sekutu mulai membongkar Kekaisaran Jepang, nasib Semenanjung Korea menjadi tawar-menawar antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Baca juga: Presiden Ukraina Sebut Berjuang Sendirian, Begini Perbandingan Kekuatan Militer Rusia vs Ukraina
Pada 1948, Korea Utara dan Korea Selatan dipisah oleh garis paralel ke-38, garis lintang yang melintasi Semenanjung Korea.
Korea Utara menjadi negara sosialis yang dipimpin Kim Il Sung dan didukung Uni Soviet, sedangkan Korea Selatan menjadi negara kapitalis yang dipimpin oleh Syngman Rhee dan didukung Amerika Serikat.
Alasan mengapa Korea terbagi menjadi dua, karena diharapkan dapat menyeimbangkan kekuatan di Asia Timur, tetapi baik Korea Utara dan Korea Selatan memandang satu sama lain sebagai negara yang tidak sah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rusia-serang-ukraina.jpg)