Memaknai Isra’ Mi’raj dalam Perjalanan Hidup Kita

Meminjam istilah Prof. M. Quraish Shihab, Isra’ diartikan sebagai perjalanan malam, sedangkan Mi’raj adalah alat untuk naik. Isra Mi’raj didefinisikan

Editor: Harun Ar Rasyid
freepik.com
Isra Miraj 2022 

Oleh Taufiqurohman, M.H.

TRIBUN-BALI.COM - Meminjam istilah Prof. M. Quraish Shihab, Isra’ diartikan sebagai perjalanan malam, sedangkan Mi’raj adalah alat untuk naik. Isra Mi’raj didefinisikan sebagai dua perjalanan Nabi Muhammad SAW yang terjadi dalam satu malam.

Isra Mi’raj digambarkan sebagai perjalanan fisik dan spiritual (rohani) yang bersumber dari kitab suci umat Islam al-Quran surat al-Isra dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

John Renerd dalam buku In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience, menyebut sebagai perjalanan heroik menuju kesempurnaan dunia spiritual yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Berbagai macam penafsiran telah dilakukan oleh ulama, dan berbagai penjelasan ilmiah scientific telah diupayakan agar dapat memecahkan teka-teki dibalik peristiwa isra’ mi’raj ini.

Terdapat tiga pendapat mengenai Isra' dan Mi'raj: Pertama, Nabi melakukan Isra' dan Mi'raj bersama Jubril secara ruh dan jasad dengan kecepatan cahaya.

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari al-Hasan. Kedua, Nabi melakukan Isra' dan Mi'raj dengan ruhnya saja, tidak dengan jasadnya. Ini adalah hadis riwayat Aisyah RA. Ketiga, Nabi Isra' dan Mi'raj tidak dengan ruh, tidak pula dengan jasad, tetapi nabi melakukannya dalam mimpi.

Ini riwayat Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Mu'awiyah adalah sekretaris Nabi dalam penulisan al-Quran. Menurut Ibnu Ishaq, riwayat yang ketiga ini tidak bertentangan dengan riwayat pertama dan kedua, sebab mimpi seorang Nabi adalah benar, seperti mimpi Nabi Ibrahim.

Pernyataan ini didukung dengan firman Allah SWT Q.S.al-Isra' ayat 60 dan surah ash-Shaffat ayat 102.
Catatan sejarah menyebutkan, peristiwa ini terjadi pada kurun tahun 620-621 Masehi atau tahun ke 10 setelah kenabian, sebelum Nabi melaksanakan keputusan untuk hijrah ke Madinah.

Bukan suatu kebetulan, dalam banyak informasi sejarah, peristiwa ini didahului oleh dua momen menyedihkan yang menimpa diri Nabi secara berturut-turut.

Kesedihan itu nampak setelah beliau ditinggal wafat oleh orang-orang yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan dakwahnya, yakni pamannya, Abu Thalib, dan istri yang dikasihnya, Khadijah.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved