Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Memaknai Isra’ Mi’raj dalam Perjalanan Hidup Kita

Meminjam istilah Prof. M. Quraish Shihab, Isra’ diartikan sebagai perjalanan malam, sedangkan Mi’raj adalah alat untuk naik. Isra Mi’raj didefinisikan

Tayang:
Editor: Harun Ar Rasyid
freepik.com
Isra Miraj 2022 

Setiap peristiwa itu menempa kita menjadi pribadi yang semakin matang dan naik kelas.

Maka, sesungguhnya dalam peristiwa Mi’raj merefleksikan diri kita semakin jauh perjalanan itu semakin menempatkan kaki ini ke tempat yang lebih tinggi.

Sebab Mi’raj dimaknai dengan ‘naik ke tempat yang lebih tinggi’ atau ‘mencapai puncak tertinggi’ di luar bumi yang kita pijak.

Keempat, diceritakan dalam kitabnya Ahmad Ad-Dardiri Ala Qishshati Mi’raj bahwasanya Rasulullah SAW dalam perjalanannya setelah menjalankan sholat bersama para Nabi di Baitul Maqdis, Jibril datang dengan membawa dua cawan yang berisi susu dan arak yang segar.

Rasulullah dihadapkan dua pilihan yang ditawarkan jibril, arak/khamr atau susu, kemudian Rasul memilih untuk mengambil susu.

Hidup adalah pilihan, setiap kita boleh menentukan sendiri dengan bebas pilihannya.

Namun perlu digaris bawahi bahwa setiap hal yang dipilih memiliki konsekuensi.

Peristiwa di atas mengajarkan bahwa setiap manusia dituntut untuk menentukan pilihan dalam hidupnya, bukan sekadar dua pilihan, tiga, empat, atau lima, bahkan puluhan pilihan-pilihan.

Maka, pilihlah setiap langkah hidup yang dijalani ini dengan penuh keyakinan dan pertanggungjawaban.
Kelima, Isra’ Mi’raj menjadi sangat penting karena banyaknya persitiwa di dalamnya.

Di antara peristiwa saat Isra’ Mi’raj adalah nabi membawa perintah sholat, berjumpa dengan para nabi lainnya, hingga lebih dari itu, berjumpa dengan Allah SWT.

Pertemuan yang merupakan dambaan setiap hamba beriman untuk bersujud langsung ‘dihadapan’ Rabbnya, yang dalam bahasa tasawuf dikenal dengan istilah hidup zuhud dan wara’.

Hal ini adalah spiritualitas tertinggi, kebahagiaan yang hakiki dan cukuplah baginya, tanpa perlu hal lainnya di dunia ini.

Sebab kemampuan berjumpa dengan Allah adalah bentuk keridhoan-Nya atas hamba tersebut.

Akan tetapi, apakah Nabi Muhammad merasa cukup dan tak mau kembali ke bumi? Nabi kembali lagi ke bumi untuk mengemban risalah Islam dan melanjutkan dinamika perjuangan dengan berbagai tantanganya.

Inilah sesungguhnya pribadi agung yang paling utama, setelah semua laku spiritual tercapai, ia tetap ingat atas tugas di dunia, yakni membangun peradaban dan membimbing umat menuju keridhoanNya.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved