Berita Denpasar
Viral Kasus Begal Payudara di Denpasar, Berikut Tanggapan Seksolog
Sebelumnya sempat terdapat kasus begal payudara yang viral dan belakangan diketahui terjadi di Denpasar.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebelumnya sempat terdapat kasus begal payudara yang viral dan belakangan diketahui terjadi di Denpasar.
Pelaku berjenis kelamin laki-laki, usia 23 tahun dan sudah diamankan oleh pihak kepolisian.
Masyarakat pun kebingungan, mengapa pemuda tersebut dapat melakukan hal seperti itu?
Ketika dikonfirmasi, Seksolog Bali, dr Oka Negara menjelaskan, dalam hal ini pelaku harus diketahui bagaimana kesehatan jiwanya.
"Pertama yang harus disepakati, untuk memastikan dugaan adanya permasalahan kesehatan, dalam hal ini adalah kesehatan jiwanya jika diduga seperti itu, tentu saja harus dengan konfirmasi langsung lewat serangkaian pemeriksaan medis psikiatris. Hal itu yang perlu dipastikan," jelasnya pada, Selasa 22 Maret 2022.
Baca juga: Mengaku Menjadi Korban Begal, Perempuan asal Jakarta Ditemukan Tergeletak di Kutsel
Kemudian ia juga menjelaskan, apakah perilaku meremas payudara termasuk gangguan perilaku impulsif, terlebih pelaku sudah melakukan hal tersebut pada 17 perempuan di Kota Denpasar.
Menurutnya hal tersebut perlu dipastikan.
Karena perilaku impulsif adalah keadaan di mana seseorang tidak mampu menahan hasrat yang terjadi begitu saja disertai dorongan yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu yang bahkan di luar kendalinya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sementara jika perilaku tersebut diarahkan ke parafilia, dr. Oka juga mengatakan hal tersebut harus dipastikan kembali.
Karena parafilia merupakan ketertarikan seseorang secara seksual pada objek, situasi, atau target yang tidak biasa.
"Yang populer dikenal orang selama ini misalnya pedofilia (tertarik secara seksual dengan anak-anak), eksebisionisme (puas dengan mempertontonkan mendadak kelamin ke orang lain), sadomasokisme (puas dengan saling menyakiti dan disakiti secara fisik) dan lainnya," imbuhnya.
Baca juga: SOSOK Serma Junaedi, Dipanggil Khusus Jenderal Dudung setelah Lumpuhkan Begal, Lolos dari 3 Tembakan
Parafilia ini sifatnya lebih ke eksklusif, artinya hanya tertarik dengan tipe parafilianya dan tidak tertarik dengan hubungan seksual biasa.
Jika ada kecurigaan parafilia, maka pada kasus ini tipe parafilianya ada yang disebut dengan Partialism atau parsialisme, yaitu ketertarikan seksual yang berfokus hanya pada satu bagian tubuh tertentu secara konsinten, dalam hal ini adalah payudara, dengan syarat tidak tertarik dengan bagian tubuh lain dan tidak tertarik untuk melakukan hubungan seksual, itu yang disebut parafilia tipe parsialisme.
Ia juga menduga tentu saja memang ada kemungkinan lain yang lebih umum adalah yang bersangkutan hanya ingin menyalurkan kesenangan seksual dengan menyakiti atau melecehkan orang lain yang sudah diniatkan atas dorongan fantasi seksualnya, tetapi sesungguhnya belum termasuk parafilia ataupun gangguan impulsif karena mungkin tetap tertarik untuk membina relasi dan hubungan seksual seperti orang kebanyakan.
Di sisi lain, terkadang pelaku pelecehan seksual memiliki juga dalam riwayat masa lalunya mengalami tekanan seksual, sehingga sebagai substitusi atau pelampiasannya diwujudkan dalam kesempatan sekarang di saat dia sudah memiliki kontrol atau kendali terhadap lingkungannya.
Baca juga: KRONOLOGI LENGKAP: Begal Tembak Suami di Hadapan Istri dan Anak: Kasihan Dia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/seksolog-dr-oka-negara-mbiomed-fias.jpg)