Berita Bangli
Jaga Adat-Istiadat Hingga Lindungi Hak Perempuan, Berikut Sisi Lain Desa Panglipuran
Bersih dan asri, adalah dua kata yang sangat identik menggambarkan desa wisata Panglipuran, di Bangli, Bali
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Solusi untuk warga adalah dengan dibuatkannya jalan melingkar dari belakang.
Kematangan tata ruang lainnya terlihat dari kebersihan desa tersebut, dan ini pula yang kian melambungkan nama Panglipuran di kancah wisata dunia.
“Kami menjadi predikat desa wisata terbersih di dunia,” tegasnya.
Secara sadar, masyarakat setiap hari melakukan kegiatan bersih-bersih pekarangan baik di dalam maupun di depan rumahnya.
Sehingga secara otomatis seluruh desa menjadi selalu bersih dan asri.
Tanaman di pekarangan pun dibatasi, hanya boleh bunga dan tanaman hias saja.
Guna kian memperindah panorama desa wisata.
Bunga tersebut juga digunakan dalam kegiatan yadnya dan upacara sehari-hari.
“Tenaga kebersihan yang kami miliki, hanya ditempatkan di tempat umum. Seperti lingkungan pura yang perlu dijaga kebersihannya setiap hari. Untuk pekarangan dan depan rumah jalan utama itu, dibersihkan oleh warga setiap hari secara sukarela. Sehingga budaya bersih sudah tumbuh sampai sekarang,” katanya.
Setelah membicarakan tata ruang, ia beralih membicarakan sistem adat di Panglipuran.
Konsep Bali Aga yang menjadi dasar di Panglipuran, terlihat dari sistem ulu apad yang bertahan sampai sekarang.
Sistem ini adalah sistem perwakilan desa adat pangarep. Jadi dari 240an KK di sana, hanya 78 orang saja yang menjadi dewan desanya.
Dewan desa inilah yang disebut desa adat pangarep, serta merupakan forum tertinggi dalam pengambilan berbagai keputusan dan kebijakan desa.
“Kemudian pada upacara kematian di kami tidak dibakar, tetapi dikubur dan ada istilah nundunin atau ngeplugin,” sebutnya.
Orang yang meninggal, dipanggil arwahnya dimohonkan kepada beliau yang menguasai lalu arwah itu dimasukkan ke dalam gesi-gesi, atau orang-orangan dari ilalang.