Berita Bangli
Jaga Adat-Istiadat Hingga Lindungi Hak Perempuan, Berikut Sisi Lain Desa Panglipuran
Bersih dan asri, adalah dua kata yang sangat identik menggambarkan desa wisata Panglipuran, di Bangli, Bali
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Dahulu oleh nenek moyang setempat, dapur ini digunakan sebagai tempat memasak hingga tempat tidur.
Namun kini, kebanyakan dapur kuno di sana hanya difungsikan sebagai tempat memasak saja.
Dapur ini juga menjadi icon penting, karena kerap diburu pelancong yang kepo untuk melihat isi di dalamnya.
“Panglipuran dikenal pula dengan tata ruang desa yang sangat indah, jadi rumah-rumah yang tertata dengan baik ini merupakan warisan dari dahulu sampai sekarang,” tegasnya.
Ia pula menegaskan, sebelum menjadi desa wisata, tatanan tata ruang desa memang demikian adanya.
Tak dinyana, berkah dari melestarikan adat budaya itu adalah hadirnya pariwisata yang berkelanjutan.
Memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi desa adat, hingga warganya di sana.
“Untuk itu, kami di desa adat ingin memberikan pelayanan maksimal kepada pengunjung yang datang,” katanya.
Pelayanan itu dalam bentuk ditiadakannya izin berkendara di area jalan utama desa.
Apalagi jalan tersebut menjadi jalan lalu-lalang wisatawan juga.
“Dulu sebelum ramai pengunjung datang ke sini, kendaraan bermotor dan sepeda gayung masih bisa lewat di depan rumah,” jelasnya.
Lambat laun tour operator yang datang, memberikan masukan agar jalan utama steril dari kendaraan bermotor maupun sepeda gayung.
Sempat pula, kata dia, ada sistem buka tutup pada jam tertentu untuk kendaraan ini.
Namun kini telah diputuskan dalam mufakat desa adat, bahwa jalan utama benar-benar steril dari kendaraan bermotor dan sepeda gayung.
Hal tersebut juga demi kenyamanan pengunjung, serta menjaga keasrian desa tanpa ada kebisingan suara mesin kendaraan.