Berita Buleleng
Empat Peti Jenazah Kuno di Museum Buleleng Dikonservasi, Dua Diantaranya Rusak Parah
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali melakukan konservasi empat sarkofagus (peti jenazah kuno) yang ada Museum Buleleng, Rabu (27/4).
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Karsiani Putri
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Bali melakukan konservasi empat sarkofagus (peti jenazah kuno) yang ada Museum Buleleng, Rabu (27/4).
Konservasi ini baru pertama kali dilakukan, pasca sarkofagus itu ditemukan pada 2002, 2004 dan 2009 lalu.
Empat sarkofagus yang ada di Museum Buleleng itu memiliki ukuran kecil dengan panjang 115 sentimeter sebanyak tiga buah, ada ukuran sedang dengan panjang 160 sentimeter satu buah.
Sarkofagus itu masing-masing ditemukan di Desa Selat Kecamatan Sukasada sebanyak dua buah, pada tahun 2002 lalu.
Baca juga: Terpidana Kasus Korupsi Nyoman Gede Astawa Lunasi Uang Pengganti Kerugian Negara
Baca juga: Terima SHM, Warga Sumberklampok Buleleng Diharapkan Kembangkan Lahan untuk Tingkatkan Taraf Hidup
Kemudian satu buah ditemukan di Desa Gobleg Kecamatan Banjar pada 2004, dan Desa Alasangker Kecamatan Buleleng pada 2009.
Pamong Budaya Ahli Muda BPCB Bali I Gusti Ngurah Adnyana mengatakan, dari empat sarkofagus yang ada, dua diantaranya dalam kondisi rusak parah, alias pecah menjadi beberapa kepingan, dan mengalami kelapukan.
Kerusakan ini terjadi saat proses penggalian atau saat sarkofagus itu ditemukan oleh warga.
Tim pun harus melakukan perbaikan, dengan melakukan rekonstruksi atau mencocokan patahan yang ada, kemudian disatukan kembali dengan menggunakan campuran bubuk batu padas dan lem.
Setelah disatukan kembali, tim selanjutnya melakukan tahapan kamuflase atau menyelaraskan warna sambungan.
Sementara dua sarkofagus lainnya dikatakan Adnyana, masih memiliki bentuk yang utuh sehingga hanya perlu dilakukan pembersihan, dengan mekanisme kering dan basah.
Konservasi ini dilakukan oleh tim BPCB Bali selama delapan hari, atau hingga Kamis (5/5) mendatang.
Dikatakan Adnyana, Dinas Kebudayaan Buleleng perlu memperbaiki balai penyimpanan sarkofagus tersebut.
Sebab kondisi atap mulai bocor dan lembab.
Hal ini dikhawatirkan dapat menyebabkan sarkofagus dipenuhi lumut.
"Baiknya sarkofagus ini disimpan di tempat yang kering dan mendapatkan sinar matahari. Ini untuk menghindari sarkofagus ditumbuhi lumut," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/balai-pelestarian-cagar-budaya-bpcb-bali-saat-mengkonservasi-empat-sarkofagus.jpg)