Wawancara Tokoh

Kelihan Desa Adat Tenganan I Putu Suarjana, Sisi Magis Kain Gringsing dan Pelestarian Alam

Kain gringsing memiliki nilai dan makna magis, yang tersohor hingga mancanegara.

Tribun Bali/Saiful Rohim
Ni Ketut Sumiartini sedang menenun kain gringsing di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem - Kelihan Desa Adat Tenganan I Putu Suarjana, Sisi Magis Kain Gringsing dan Pelestarian Alam 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Kain gringsing memiliki nilai dan makna magis, yang tersohor hingga mancanegara.

Selain itu, kehidupan mandiri masyarakat adat Tenganan Pagringsingan juga unik, yang didapat dari melestarikan alam lingkungan sekitarnya.

Berikut wawancara khusus host Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti dengan Kelihan Desa Adat Tenganan Pagringsingan, I Putu Suarjana, di Manggis, Karangasem, Bali, belum lama ini:

Mengapa kain gringsing sangat terkenal bahkan hingga di dunia?

Kain gringsing dianggap ikon oleh masyarakat hingga wisatawan, karena kain ini adalah salah satu kain yang dipakai sebagai sarana upacara di Tenganan Pagringsingan.

Kemudian teknik pembuatannya juga unik dan rumit, menggunakan konsep double ikat atau ikat ganda.

Jadi pakan dan lungsi itu dimodif sebelum ditenun, sehingga pada saat menenun ada kesulitan lebih dibandingkan kain biasa.

Proses lainnya yang membuat proses pembuatan kain gringsing lama apa saja?

Proses tenun kain gringsing ini memakan waktu cukup lama, karena dari sisi pewarnaan menggunakan warna alam.

Warna merah didapatkan dari kulit akar mengkudu, kuningnya dari kemiri, dan warna hitam adalah kombinasi warna biru dengan warna merah.

Warna biru berasal dari daun taum (Indigofera). Inilah yang membuat proses pembuatan kain gringsing memakan waktu lama.

Sehingga kain gringsing memiliki nilai lebih dibandingkan kain lainnya.

Dari mana mendapatkan pewarna alami?

Kami mendapatkan warna dari wilayah Nusa Dua, seperti akar mengkudu dan beberapa bahan lainnya.

Untuk satu kain berapa lama waktu yang dibutuhkan?

Minimal dua sampai tiga tahun untuk satu proses yang kecil, kemudian yang lebih besar dan paling besar bisa sampai 7-9 tahun.

Kalau kain yang kecil maksimal dalam satu ikat ada 6 pcs.

Kalau yang besar maksimal 5 pcs dalam satu proses, agar hasil kain yang didapatkan bagus.

Ini pula yang membuat harga kain gringsing cukup mahal, karena prosesnya yang rumit dan lama.

Berbeda kalau menggunakan bahan kimia, mungkin bisa lebih cepat.

Mencari material, pemilahan, proses-prosesnya panjang.

Pewarnaan yang paling lama, karena harus merendam dan menjemur kibas ke angin.

Kalau warna belum sesuai kembali dicelup lagi.

Adakah batasan dalam pembuatan kain gringsing?

Tentu saja ada, wanita cuntaka atau haid tidak diperkenankan menenun kain gringsing.

Makanya prosesnya membuat lama, karena mayoritas yang membuat proses ini adalah perempuan.

Namun tidak jarang kaum pria membantu, karena kami ingin melestarikan kain gringsing.

Semisal dalam proses mengikat dan lain sebagainya.

Apa sih arti kata gringsing?

Gringsing terdiri dari dua kata, gring atau gering dan sing.

Gering artinya sakit, sing itu tidak. Jadi secara harfiah dapat diartikan tidak sakit.

Namun ini filosofi harapan agar tidak sakit, bukan berarti dengan memakai kain gringsing malah menjadi tidak sakit.

Filosofi apa yang terkandung di dalam kain gringsing?

Kain gringsing terdiri dari tiga warna, pertama merah, putih atau kuning, dan warna hitam.

Kalau dikaitkan dengan manifestasi Tuhan, itu ada Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Serta ada wujud air, api, dan angin.

Tatkala dalam diri sendiri mampu menyeimbangkan, ketiga unsur ini maka seseorang tentu saja akan sehat.

Kain gringsing adalah salah satu media pembelajaran, dan media introspeksi masyarakat kami untuk selalu ingat apa yang harus dilakukan.

Filosofi ini yang sangat luar biasa.

Lalu apa makna simbol di kain gringsing?

Kami memiliki 28 motif kain gringsing, salah satunya bernama lubeng sebagai konsep desa Tenganan.

Dari 900 Ha lebih wilayah kami, 8 persennya pemukiman sehingga di dalam motif lubeng ini ada pemukiman.

Nah konsep pemukiman kami di sini adalah benteng (Jagasatru).

Jadi kalau masuk ke desa Tenganan ada empat pintu masuk, lewat utara satu, lewat selatan satu, timur satu dan barat satu.

Ini bernama lawangan, sehingga masyarakat kami mudah memproteksi.

Lalu ada kalajengking di dua sisinya, itu sebagai simbol saja. Sifatnya yang diikuti.

Jadi ketika tidak diganggu mereka tidak akan menyerang, namun ekornya dalam posisi siaga jika diserang.

Ada namanya motif cemplong, ada motif wayang, dan masih banyak lagi.

Lalu yang digunakan untuk upacara motif apa?

Pada bulan pertama sasih kasa, ada namanya nyandang kebo maka warga adat di sini wajib menggunakan kain gringsing motif wayang kebo.

Ada aturan kapan harus pakai gringsing dan tidak pakai kain gringsing.

Tidak bisa sembarangan dipakai begitu saja.

Penggunaan kain ini pun hanya pada upacara atau waktu tertentu saja, semisal dalam upacara rejang dengan menggunakan gringsing. Inilah nilai sakralisasinya.

Ada sanan empeg, anteng, selendang, saput, dan penggunaannya juga ada aturannya.

Bagaimana generasi muda di Tenganan dalam melihat kain gringsing di era modern?

Bagi kami di Tenganan Pagringsingan, tidak terlalu pengaruh dengan era modern ini.

Karena anak-anak kami sudah terbiasa melihat proses pembuatan kain gringsing di rumahnya.

Bahkan kami yakin kain gringsing tidak akan pernah punah di Tenganan.

Sebab pembuatan kain gringsing tidak semata-mata dari sisi finansialnya saja, namun kain ini adalah bagian keseharian masyarakat kami.

Masyarakat Tenganan wajib memiliki kain gringsing dan wajib menggunakannya.

Apalagi saat ritual suci keagamaan. Bukan semata-mata fashion atau gengsi saja.

Sebagai tokoh adat bagaimana mengajak generasi muda ikut melestarikan gringsing?

Medianya melalui upacara untuk sosialisasi pelestarian ini.

Salah satu contoh, tatkala ada upacara maka kelompok remaja putra kami dikumpulkan.

Lalu disediakan upacara yang merupakan media sosialisasi, termasuk etika, moralitas, dan sebagainya.

Contoh saja, generasi penerus diberikan warisan tanah yang dikelola sendiri, dan hasilnya dipakai upacara.

Sehingga di Tenganan sangat mandiri sampai saat ini.

Konsep mandiri di Tenganan Pagringsingan itu seperti apa?

Generasi muda di Tenganan diajak melestarikan alam lingkungan warisan leluhurnya.

Ada aturan proteksi wilayah kami sejak zaman dahulu, dan semua yang digunakan untuk upacara harus ditanam dan disediakan di lahan itu.

Sehingga kami mandiri dalam hal itu, karena hutan kami dijaga betul.

Dari 900 Ha lebih luas Tenganan Pagringsingan, 500 Ha lebih adalah hutan.

200 Ha lebih dari hutan itu adalah hutan produktif seperti kebun dan ladang warga kami.

300 Ha lebih adalah hutan lindung.

Makanya kami diajarkan mandiri dan tidak ketergantungan, namun kami memfilter juga modernisasi ke sini. (*)

Kumpulan Artikel Karangasem

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved