Human Interest Story

Kisah Wayan Sunarta di Klungkung, 16 Tahun Rawat Anak Hidrosefalus, Berharap Ada Mukjizat Kesembuhan

I Gede Aditya Saputra (16), remaja asal Desa Tojan, Klungkung, Bali, menderita hidrosefalus sejak lahir.

Tribun Bali/Eka Mita Suputra
HIDROSEFALUS - I Gede Aditya Saputra (kanan), remaja yang menderita hidrosefalus sejak lahir saat ditemui di kediamannya di Desa Tojan, Klungkung, Kamis 28 April 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - I Gede Aditya Saputra (16), remaja asal Desa Tojan, Klungkung, Bali, menderita hidrosefalus sejak lahir.

Kondisinya itu membuatnya tidak bisa tumbuh selayaknya remaja seusianya.

I Gede Aditya Saputra hanya terbaring lemah saat ditemui di kediamannya yang sederhana, di Banjar Jelantik Kori Batu, Desa Tojan, Klungkung, Kamis 28 April 2022.

Penyakit hidrosefalus yang ia derita membuatnya tidak bisa tumbuh selayaknya remaja seusianya.

Baca juga: Kisah AKBP Ida Ayu Wikarniti, Kapolres Kawasan Bandara I Gusti Ngurah Rai

Tubuhnya kurus, dan ia tidak bisa berbicara ataupun berjalan.

Kedua orangtuanya, Wayan Sunarta (40) dan Kadek Purwati (34) tampak sangat sabar merawat buah hatinya tersebut.

Selama belasan tahun, sulung dari 4 bersaudara itu harus hidup bergantung dengan bantuan orang lain.

“Anak saya sudah mengalami hidrosefalus sejak usia sekitar 3 bulan. Ketika itu lingkar kepalanya tidak normal, sehingga kami bawa ke puskesmas dan dirujuk ke RSUD Klungkung,” ujar Wayan Sunarta, Kamis.

Setelah diperiksa, ternyata putranya itu didignosa mengalami hidrosefalus dan lingkar kepalanya pun terus membesar.

Gede Aditya dioperasi saat usianya 5 bulan.

“Saat itu belum ada BPJS (jaminan kesehatan) seperti sekarang. Kami banyak menerima bantuan untuk operasi,” ungkap Wayan Sunarta.

Selepas operasi, dokter pun sudah menyampaikan bahwa Gede Aditya tidak dapat tumbuh normal seperti anak pada umumnya.

Seiring bertumbuhnya usia, kemampuan motorik maupun sensorik dari Gede Aditya tidak berkembang dengan baik.

“Ia tidak bisa berbicara atau berjalan. Hanya bisa mendengar dan merasa saja. Misal kalau lapar biasanya menangis. Kalau dengar suara keras, dia menangis,” ungkapnya.

Setiap hari Gede Aditya hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Ia hanya bisa mengkonsumsi makanan lembut, seperti bubur dan air putih.

Hal itu pula yang membuat tubuh remaja itu sangat kurus.

Baca juga: KISAH Seorang Ibu Kerja Jadi Tukang Cuci Piring di Rumah Anaknya, Kini Dilaporkan ke Polisi

Selama ini petugas kesehatan dari puskesmas rutin memantau kesehatan dari Gede Aditya.

Bantuan juga sudah pernah diberikan, baik dari pemerintah ataupun dari swasta.

“Karena kondisi kami serba keterbatasan. Saya sempat diberikan pekerjaan juga oleh pihak yayasan. Istri saya juga mendapat kesempatan bekerja sebagai cleaning service di RSUD Klungkung, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan anak dalam kondisi sakit,” ungkapnya.

Meskipun kondisinya belum membaik, kedua orangtuanya tidak pernah kehilangan semangat merawat Gede Aditya.

Mereka pun tatap berharap ada keajaiban, yang membuat putra sulungnya itu bisa sembuh dan tumbuh seperti remaja seusianya.

“Kami masih berharap putra kami bisa sembuh dan tumbuh seperti remaja seusianya. Kami tidak pernah putus semangat, walau sudah belasan tahun merawat putra kami yang kondisinya seperti ini,” harapnya. (eka mita suputra)

Kumpulan Artikel Klungkung

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved