Hari Buruh
Marsinah, Pahlawan Buruh Indonesia Hingga Berujung Maut
Aku melihat begitu banyak tangan berlumuran darah. Aku melihat bagaimana keserakahan boleh terus berlangsung. Para pemilik modal boleh terus mengeruk
Ia merupakan buruh perempuan yang vokal, di dalam membela rekan-rekannya sesama buruh, yang kerap diperlakukan tidak adil oleh pihak pimpinan perusahaan.
Pada 4 Mei 1993, Marsinah memimpin unjuk rasa kenaikan upah dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250.
Ketika beberapa rekannya dikeluarkan dari perusahaan, dia pula lah yang membelanya.
Perjuangan Marsinah mengalami puncaknya pada tanggal 5 Mei 1993, yaitu ketika suatu malam dia diculik dan disiksa oleh 5 orang 'algojo' PT CPS.
Baru pada 9 Mei, mayatnya ditemukan secara mengenaskan di sebuah gubuk di daerah Nganjuk, sekitar 200 Km dari tempatnya bekerja.
Kematian Marsinah yang tidak wajar itu, mendapat reaksi keras dari para aktivis dan masyarakat luas.
Mereka menuntut pihak aparat keamanan, untuk menyelidiki dan mengadili para pelakunya.
Sebagai rasa simpati dan solidaritas terhadap Marsinah, para aktivis pun membentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM).
Marsinah lahir pada 10 April 1969, dan memiliki tipikal buruh perempuan desa yang pergi ke kota tetapi terpinggirkan.
Marsinah anak kedua dari tiga bersaudara, yang semuanya perempuan, Marsini kakaknya dan Wijiati adiknya.
Dia lahir dari pasangan Astin dan Sumini di desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
Ibunya meninggal saat ia berusia tiga tahun, dan ayahnya kemudian menikah lagi dengan dengan Sarini, perempuan dari desa lain.
Sejak itulah Marsinah kecil diasuh neneknya, Paerah, yang tinggal bersama paman dan bibinya, pasangan Suraji-Sini.
Tidak ada yang istimewa dari masa kecil Marsinah.
Ia tipikal anak perempuan kalangan menengah pedesaan yang hidup subsisten, tidak terlampau miskin, walaupun tidak kaya.