Berita Buleleng

2 Remaja Baku Hantam di Depan Toko Pakaian di Buleleng, Perbekel Patemon Gelar Mediasi

Perkelahian antara PE (14) dan GBT (17) terjadi di depan toko pakaian yang ada di Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali.

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Tribun Bali/Dwi S
Ilustrasi berkelahi - 2 Remaja Baku Hantam di Depan Toko Pakaian di Buleleng, Perbekel Patemon Gelar Mediasi 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Kasus perkelahian antar dua remaja di Buleleng viral di media sosial.

Perkelahian antara PE (14) dan GBT (17) terjadi di depan toko pakaian yang ada di Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali.

Dari video berdurasi 21 detik yang beredar di sosial media Facebook itu, tampak dua pria berbaju hitam berkelahi di depan sebuah toko pakaian.

Seorang pria mengenakan topi cokelat memukul kepala lawannya berulang-ulang kali hingga tersungkur.

Baca juga: Kasus Perkelahian Berdarah di Buleleng, Kedua Keluarga Jadi Tersangka

Kejadian itu disaksikan sejumlah orang.

Terdengar seorang wanita menjerit melihat perkelahian kedua remaja tersebut.

Namun bukannya melerai, yang lain justru diam menyaksikan perkelahian dan merekamnya.

Perbekel Desa Patemon, I Ketut Winaya menyatakan, perkelahian itu terjadi pada Sabtu 7 Mei 2022, namun baru diketahui oleh aparat desa setelah video perkelahiannya viral di media sosial.

Ia memediasi kedua pihak dengan didampingi oleh keluarga masing-masing, serta aparat kepolisian.

Winaya telah memanggil kedua pihak ke kantor desa hari ini, (kemarin, red).

Dari keterangan keduanya, perkelahian terjadi karena saling tersinggung. PE dan GBT tiba secara bersamaan di toko pakaian itu.

PE kala itu membonceng seorang rekannya.

Demikian dengan GBT, datang bersama dengan rekannya.

Setibanya di toko pakaian itu, PE merasa ia hendak diserempet oleh GBT.

PE merasa tersinggung, ia masuk ke toko pakaian itu untuk membeli baju.

Setelah membeli baju, PE kemudian kembali ke parkiran.

Namun saat kembali ke parkiran itu, GBT juga merasa teringgung lantaran dirinya dipandang sinis oleh PE.

Winaya mengatakan, PE sempat menanyakan asal GBT dengan bahasa yang dirasa cukup kasar.

Terjadilah cekcok hingga berujung pada baku hantam.

"Motifnya salah paham saja, bukan karena masalah perempuan. PE sempat bertanya kepada GBT dengan bahasa 'uling ije ci' (dari mana kamu). GBT akhirnya tersinggung hingga terjadi lah perkelahian itu. Saat berkelahi, PE terpeleset dan jatuh. Sehingga GBT memukulnya secara terus menerus, seperti yang ada di video itu," ungkapnya.

Baca juga: Kadek Arsana dan Anaknya Ditetapkan Tersangka, Buntut Kasus Perkelahian di Desa Kaliasem Buleleng

"Keluarga GBT berharap masalah ini bisa diselesaikan secara damai. GBT sudah mengakui memukul PE berulang-ulang kali. PE juga mengaku sempat bertanya dengan kata kasar terhadap GBT. Besok (hari ini) akan kami mediasi lagi, agar kedua belah pihak berdamai karena masih anak-anak. Kami akan bina keduanya," sambung dia. (*)

Kumpulan Artikel Buleleng

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved