Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Tumpek Wariga Penanda 25 Hari Mendatang Galungan, Apa yang Dilakukan?

Tumpek Wariga ini juga bisa dusebut dengan Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Panuduh, Tumpek Pengarah, atau Tumpek Pengatag.

Penulis: Putu Supartika | Editor: Noviana Windri
Tribun Bali
Ilustrasi sembahyang 

Ngetor nged, nged, nged, nged, buin selae lemeng Galungan, mebuah apang nged.

Hal ini bermakna sebagai ungkapan rasa syukur atas rahmat yang dilimpahkan berupa tumbuhan yang subur sekaligus sebagai pengharapan semoga tumbuhan yang berbuah akan berbuah lebat yang akan dipakai sesajen saat Galungan.

Menurut Kelihan Penggak Men Mersi, Kadek Wahyudita, dahulu biasanya tumbuhan yang diupacarai adalah tumbuh-tumbuhan seperti kelapa dan tumbuhan buah-buahan. 

Tumbuh-tumbuhan ini biasanya tumbuh di pekarangan atau tegalan masyarakat.

"Akan tetapi kini seiring dengan laju perkembangan jaman, khususnya di kota, masyarakat tidak lagi memiliki teba sehingga sangat jarang dijumpai pohon berbuah yang diupacarai pada saat tumpek bubuh. Dampaknya tumpek bubuh secara perlahan mulai tidak dipahami maknanya oleh generasi kekinian," katanya.

Baca juga: Puluhan Keris Khas Klungkung Akan Dipamerkan Seangkaian Hari Tumpek Landep

Namun menurutnya dengan konsep tanaman buah dalam pot (tabulapot) masyarakat bisa memanfaatkan pekarangannya yang tidak terlalu luas untuk menanam tanaman buah.

Dengan demikian masyarakat juga bisa melaksanakan perayaan Tumpek Wariga di perkotaan walaupun tidak memiliki tegalan. (*)
 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved