Berita Internasional

Pandemi Covid-19 Belum Usai, Kini Muncul Virus Cacar Monyet, WHO: Kami Perlu Selidiki

Belum terkendalinya Pandemi Covid-19, dunia kini dihebohkan dengan sebuah virus berjenis baru, Virus Monkeypox atau Cacar Monyet

Editor: I Putu Juniadhy Eka Putra
SPL via BBC INDONESIA lewat Kompas.com
Penyakit langka cacar monyet bisa menyebabkan ruam pada wajah dan tangan. 

TRIBUN-BALI.COM ­– Pandemi Covid-19 Belum Usai, Kini Muncul Virus Cacar Monyet, WHO: Kami Perlu Selidiki.

Belum terkendalinya Pandemi Covid-19, dunia kini dihebohkan dengan sebuah virus berjenis baru.

Virus Monkeypox atau cacar monyet dikabarkan telah menyebar di beberapa belahan dunia.

Menurut otoritas kesehatan di Amerika Utara dan Eropa telah mendeteksi puluhan kasus yang terkonfirmasi sebagai cacar monyet sejak awal Mei kemarin.

Hal ini pun membawa kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit endemik di beberapa bagian negara Afrika tersebut.

Dikutip Tribun-Bali.com Channel News Asia pada Sabtu 21 Mei 2022, Kanada adalah negara terbaru yang melaporkan sedang menyelidiki lebih dari selusin kasus yang diduga cacar monyet, setelah Spanyol dan Portugal mendeteksi lebih dari 40 kasus yang mungkin dan terverifikasi.

Inggris mengkonfirmasi sembilan kasus sejak 6 Mei. Dan Amerika Serikat memverifikasi yang pertama pada Rabu 18 Mei 2022 dengan mengatakan, seorang pria di Negara Bagian Massachusetts positif terkena virus monkeypox setelah mengunjungi Kanada.

Cacar monyet, yang sebagian besar terjadi di Afrika barat dan tengah, adalah infeksi virus yang mirip dengan cacar manusia, meskipun lebih ringan. Ini pertama kali terdeteksi di Republik Demokratik Kongo pada 1970-an.

Penyakit yang sebagian besar orang pulih dalam beberapa minggu dan hanya berakibat fatal dalam kasus yang jarang terjadi, telah menginfeksi ribuan orang di beberapa bagian Afrika tengah dan barat dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Gelar Vaksin di Desa Tegal Harum Denpasar, Kompol Made Hendra Harap Semua Kembali Sehat

Tetapi, kasus cacar monyet jarang terjadi di Eropa dan Afrika Utara.

Penyakit ini sering diawali dengan gejala flu seperti demam, nyeri otot, dan pembengkakan kelenjar getah bening, sebelum menyebabkan ruam seperti cacar air di wajah dan tubuh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Selasa 17 Mei 2022, sedang berkoordinasi dengan pejabat kesehatan Inggris dan Eropa mengenai wabah baru tersebut.

"Kita benar-benar perlu lebih memahami tingkat cacar monyet di negara-negara endemik, untuk benar-benar memahami berapa banyak yang beredar dan risiko yang ditimbulkannya bagi orang-orang yang tinggal di sana, serta resiko ekspor," kata ahli epidemiologi penyakit menular WHO Dr. Maria Van Kerkhove, seperti dilansir Channel News Asia.

Kasus pertama di Inggris adalah seseorang yang melakukan perjalanan dari Nigeria, meskipun infeksi selanjutnya mungkin melalui penularan komunitas, menurut Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) dalam sebuah pernyataan.

"Kasus terbaru ini, bersama dengan laporan kasus di negara-negara di seluruh Eropa, menegaskan kekhawatiran awal kami bahwa mungkin ada penyebaran cacar monyet di dalam komunitas kami," kata Kepala Penasehat Medis UKHSA Dr Susan Hopkins, seperti dikutip Channel News Asia.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved