Berita Badung

Pertemuan Awal GPDRR 2022, Gubernur Bali Berbagi Pengalaman Pengurangan Risiko Bencana

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin Pertemuan Awal GPDRR 2022, Gubernur Bali Berbagi Pengalaman Pengurangan Risiko Bencana

Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Harun Ar Rasyid
(Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin)
Gubernur Bali Wayan Koster saat berbagi pengalamannya dalam membangun daerah tangguh bencana pada Local Leaders Forum: Toward Inclusive, Safe, Resilient and Sustainable Cities, Senin 23 Mei 2022. 

TRIBUN BALI.COM, MANGUPURA - Rangkaian kegiatan Pertemuan Awal Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 telah dimulai pada hari Senin 23 Mei 2022 kemarin.

Salah satu kegiatan yang digelar dalam agenda itu adalah Local Leaders Forum: Toward Inclusive, Safe, Resilient and Sustainable Cities.

Pada kesempatan ini, perwakilan kepala daerah dari berbagai negara membagikan komitmen dan praktik baik dalam upaya penguatan pembangunan berkelanjutan di wilayah masing-masing.

Dr. Raditya Jati selaku Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB dalam pembukaan kegiatan menyebutkan, 42 persen dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia memiliki risiko bencana yang tinggi.

Sementara sisanya, menurut Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) tahun 2020 memiliki risiko bencana sedang.

"Oleh sebab itu, penguatan resiliensi bukanlah suatu pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab yang sangat diperlukan," sebut Raditya.

Raditya juga menambahkan, tidak ada solusi tunggal dalam penanggulangan bencana yang dapat digunakan untuk konteks yang sama di daerah berbeda.

Hal ini memposisikan pemerintah daerah menjadi ujung tombak untuk meningkatkan pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.

Dalam tatanan global, program Making Cities Resilient 2030 (MCR 2030) mendukung penguatan resiliensi suatu kota untuk memastikan kota atau kabupaten menjadi inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan pada tahun 2030.

Pada forum ini, beberapa pemerintah daerah di Indonesia berkesempatan untuk berbagi pengalamannya dalam membangun daerah tangguh bencana.

Di Provinsi Bali misalnya yang memiliki beberapa potensi bencana, pengurangan risiko bencana didasarkan pada 3 unsur tatanan kehidupannya yaitu Tuhan, alam, dan manusia atau yang akrab disebut Tri Hita Karana.

Tatanan tersebut dijadikan dasar dalam menentukan kebijakan untuk membangun ketangguhan Bali.

Dalam hal merespons jika terjadi bencana, para pemangku di desa adat Bali akan membunyikan Kul-Kul yang merupakan sirine tradisional.

"Sementara saat pandemi COVID-19 yang muncul pertama kali di Bali pada 10 Maret 2020, kami membentuk satuan tugas di desa adat untuk merespons secara cepat dan masif," sebut Gubernur Bali Wayan Koster.

Sebagai destinasi wisata, Bali melakukan sertifikasi kepada hotel, restoran, rumah sakit, museum, dan destinasi wisata lainnya untuk memberikan rasa nyaman dan aman bagi wisatawan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved