Berita Bali

GPDRR Hasilkan ‘Agenda Bali untuk Resiliensi’

Kegiatan Sesi ke-7 Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana (GPDRR) di Nusa Dua

antara/aprillio akbar
PENUTUPAN-Para penari mementaskan tarian Durga Kerti dalam penutupan Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Nusa Dua, Badung, Jumat 27 Mei 2022. GPDRR 2022 yang berlangsung pada 23-28 Mei 2022 resmi ditutup, dan akan diselenggarakan selanjutnya di Swiss. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Kegiatan Sesi ke-7 Platform Global untuk Pengurangan Risiko Bencana (GPDRR) di Nusa Dua, Badung, Bali, pada 23-28 Mei 2022, diakhiri dengan hasil "Bali Agenda for Resilience" untuk mencegah dunia menghadapi 1,5 kali bencana dalam sehari pada 2030.

Pertemuan agenda PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) ini membahas upaya pengurangan risiko bencana dan merupakan suatu "panggilan penting" untuk meningkatkan tindakan pencegahan dan menghentikan semakin meningkatnya dampak dan risiko bencana.

"Lebih banyak negara harus berpikir tentang ketahanan, dan segera mengadopsi dan meningkatkan sistem peringatan dini untuk mengurangi risiko dari meningkatnya jumlah bencana di seluruh dunia," demikian menurut kesimpulan dari forum PBB tersebut.

Selama enam hari, para wakil dari sekitar 184 negara berkumpul di Bali untuk meninjau upaya melindungi masyarakat dari peningkatan bahaya akibat perubahan iklim dan bencana lainnya di seluruh dunia.

Baca juga: Jadi Narasumber di GPDRR, Sukawirma Beberkan Kasus Rabies di Tabanan

GPDRR 2022 mencatat hanya 95 negara yang dilaporkan memiliki sistem peringatan dini multibahaya yang memberikan pemberitahuan kepada pemerintah, lembaga, dan masyarakat umum tentang bencana yang akan datang.

Cakupan yang sangat rendah ada di Afrika, dan sejumlah negara tertinggal, dan negara-negara berkembang kepulauan kecil.

Laporan Penilaian Global PBB tentang Pengurangan Risiko Bencana (GAR) menyebut sistem peringatan dini sebagai pertahanan kritis terhadap bencana, seperti banjir, kekeringan, dan letusan gunung berapi.

Laporan itu menyampaikan kemungkinan adanya 560 bencana --atau 1,5 bencana per hari-- pada 2030 berdasarkan perkiraan saat ini.

Laporan itu disampaikan setelah Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan pentingnya sistem peringatan untuk mencakup setiap orang di dunia dalam waktu lima tahun.

"Sistem peringatan dini harus mencakup komunitas yang paling berisiko dengan kapasitas kelembagaan, keuangan, dan manusia yang memadai untuk bertindak atas peringatan dini bencana," kata dokumen hasil GPDRR 2022, yang dikenal sebagai Agenda Bali untuk Ketahanan (Bali Agenda for Resilience).

"Rekomendasi inti (dari Agenda Bali ini) adalah untuk menerapkan pendekatan 'Berpikir tentang Ketahanan' untuk semua investasi dan pengambilan keputusan, mengintegrasikan upaya pengurangan risiko bencana dengan seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat," demikian seperti dicatat dalam Agenda Bali.

Pertemuan di Nusa Dua ini merupakan forum internasional kebencanaan PBB pertama sejak awal pandemi Covid-19.

Baca juga: Selain Delegasi GPDRR, Wakil Presiden Zambia Juga Akan Kunjungi Desa Penglipuran

Mengingat pandemi, Agenda Bali menyoroti perlunya untuk kembali mengevaluasi cara-cara untuk mengatur risiko bencana dan rancangan kebijakan terkait penanganan bencana serta jenis pengaturan kelembagaan yang perlu dilakukan di tingkat global, regional, dan nasional.(ant)

Kumpulan Artikel Bali

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved