Berita Bali

Kenali Perubahan Tingkah Laku, Pesan Psikiater Terkait Maraknya Kasus Bunuh Diri di Bali

Fenomena bunuh diri atau “Complex Suicide” kian bertambah di Bali. Menurut data yang dihimpun, untuk pertengahan hingga akhir Mei 2022 terdapat 6 kasu

Istimewa/Dok. I Gusti Rai Putra Wiguna
dr. I Gusti Rai Putra Wiguna selaku spesialis kedokteran jiwa dan juga Psikiater di RSUD Wangaya 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Fenomena bunuh diri atau “Complex Suicide” kian bertambah di Bali.

Menurut data yang dihimpun, untuk pertengahan hingga akhir Mei 2022 terdapat 6 kasus bunuh diri.

Di antaranya terjadi di Denpasar, Badung, Tabanan dan Jembrana. Sebagian besar dilakukan dengan cara dan faktor yang hampir sama.

Baca juga: BUNUH Diri Sama Dengan Ulah Pati, Dosa Besar Dalam Agama Hindu!

Psikiater dr I Gst Rai Putra Wiguna SpKJ mengakui, kasus Complex Suicide kian meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Ini tren yang sudah ada sejak tahun lalu ya. Jadi tahun lalu ada 124 kasus bunuh diri, Complex Suicide di Bali. Itu peningkatan yang hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya,” jelas Rai Wiguna saat dihubungi Tribun Bali, Rabu 1 Juni 2022.

Rai Wiguna mengatakan, faktor penyebab complete suicide atau bunuh diri tidak hanya karena ekonomi.

Ada faktor lain yang turut mendukung kasus tersebut, misalnya kematangan kepribadian dan pengaruh support system.

“Ya betul, salah satu faktornya adalah faktor ekonomi. Tapi saya yakin itu bukan faktor tunggal. Ada faktor yang lain, misalnya, ada faktor kematangan kepribadian dalam menghadapi stres."

Baca juga: MARAK Kasus Bunuh Diri di Bali, Jangan Hakimi Tapi Dengarkan Keluh Kesahnya!

"Kemudian faktor kebersamaan atau support system dalam keluarga, dalam kemasyarakatan yang mungkin menurun,” ujarnya.

Kematangan kepribadian adalah resiliensi mental atau ketahanan yang ada di dalam diri guna menghadapi stres yang muncul dari luar diri.

Rai Wiguna menjelaskan, kematangan kepribadian dipengaruhi oleh pengalaman hidup orang bersangkutan.

“Jadi itu (kematangan kepribadian) sangat tergantung pada tipe kepribadian seseorang. Misalnya kalau pernah mengalami trauma psikologis di masa kecil, remaja atau mengalami perundungan, itu turut menurunkan resiliensi mental,” jelas Rai Wiguna.

Psikiater di klinik kesehatan di Jalan PB Sudirman, Denpasar ini mengatakan, ciri-ciri orang yang akan melakukan Complex Suicide diawali dari perubahan tingkah laku.

Misalnya, perubahan pola makan, konsumsi alkohol yang berlebih, suka menyendiri, hingga membicarakan tentang kematian.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved