Ngopi Santai
Bercakap-cakap dengan Anggrek
Klaim itu memantik kontroversi luas, dan bahkan dianggap pseudo-sains (setengah klenik) oleh para ahli biologi.
Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
Kisah lain yang lebih ekstrem tentang ngobrol dengan “makhluk” selain manusia, bahkan dengan benda-benda mati, juga saya pernah dengar.
Ini tentang seorang sopir dan angkutan pedesaan (angkudes) yang dikendarainya sehari-hari.
Saya lupa apakah kisah itu saya dengar sendiri dari si sopir ataukah saya mendengarnya dari seorang kawan. Sudah cukup lama saya dengar kisah itu, sehingga jadi lupa-lupa ingat.
Tapi, konten ceritanya saya ingat betul, karena benar-benar menarik perhatian dan menembus batas logika saya saat itu.
Singkat cerita, ketika sedang membersihkan angkudes-nya, si sopir mengajak 'ngobrol' kendaraannya itu seakan-akan si angkudes memiliki telinga untuk mendengar ucapan manusia.
"Ketika saya lap dan sirami supaya bersih, saya bayangkan angkudes ini merasa segar dan gembira. Saya anggap dia teman kerja saya. Kadang saya elus sembari ucapkan ‘terima kasih ya sudah bersama saya bertahun-tahun mencari rezeki. Kamu juga tak pernah rewel dan mogok’," demikian kira-kira tutur si sopir tentang bagaimana cara dia memperlakukan alat dan 'teman kerjanya' itu.
Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan secara ilmiah kisah “obrolan” sopir itu dengan angkudes-nya.
Maksudnya, bagaimana menjelaskan kaitan antara doa atau harapan yang kita “interaksikan” ke benda-benda “mati”, dan bagaimana kemudian benda-benda itu “memberikan respon”.
Bagaimana pendapat Anda?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/anggrek_20181024_124553.jpg)