Ngopi Santai

Bercakap-cakap dengan Anggrek

Klaim itu memantik kontroversi luas, dan bahkan dianggap pseudo-sains (setengah klenik) oleh para ahli biologi.

Penulis: Sunarko | Editor: Sunarko
plantrescue.com
Ilustrasi - Salah satu jenis anggrek, yakni Phalaenopsis Amabilis. Riset menyebutkan bahwa tumbuhan seperti anggrek bisa merespon getaran energi manusia. 

Setelah melakukan sejumlah percobaan, keduanya menyimpulkan bahwa tanaman juga memiliki kemampuan merasakan (sentience) atau memiliki "emosi" sebagaimana makhluk hidup lainnya seperti manusia dan binatang.

Memang klaim itu kemudian memantik kontroversi luas, dan bahkan dianggap pseudo-sains (setengah klenik) oleh para ahli biologi tumbuhan.

Namun, kedua penulis menjawab, sains selama ini tidak peduli pada "apa yang membuat tanaman hidup", kecuali hanya hirau pada unsur materi dari tanaman.

Percobaan oleh Peter Tompkins dan Christopher Birds ini sebetulnya diinspirasi oleh eksperimen jauh sebelumnya dari ahli fisiologi dan fisikawan tanaman  India, Jagadish Chandra Bose, yang dituangkan dalam bukunya The Nervous Mechanism of Plants (Mekanisme Syaraf Tumbuh-tumbuhan).

Chandra Bose bahkan berpendapat lebih jauh.

Setelah serangkaian eksperimennya, dia berhipotesa bahwa tanaman bisa “merasakan” rasa sakit dan memahami kasih sayang, termasuk merespon alunan musik.

Baca juga: Informasi yang Bercahaya

Kemudian pada tahun 1962, Dr TC Singh, Kepala Departemen Botani di Universitas Annamalia, India, bereksperimen dengan efek suara musik pada tingkat pertumbuhan tanaman.

Ia mendapati bahwa biomassa dari bunga balsam tumbuh pada tingkat yang dipercepat sebesar 20 % dan 72 % ketika terekspos alunan musik klasik.

Akhirnya, eksperimen ilmiah belakangan ini membuktikan bahwa tanaman bisa bereaksi terhadap sentuhan manusia dan bahkan tanaman pun bisa "mendengar", selain --yang sudah umum diketahui-- bahwa tanaman bereaksi terhadap perubahan suhu dan terpaan angin.

Itu seperti ditunjukkan oleh hasil riset dua ahli biologi dari University of Missouri-Columbia, Heidi Appel and Rex Cocroft, yang kemudian dipaparkannya dalam jurnal Aecologia  (2014).

"Kita bisa membayangkan penerapan hasil riset ini, dimana tanaman bisa dirawat dengan suara atau direkayasa secara genetika untuk merespon bunyi tertentu, yang bisa jadi akan berguna bagi dunia pertanian (karena bisa mengurangi penggunaan pembasmi hama dari bahan kimia, pen.)," kata Heidi Appel seperti dikutip The Washington Post pada 6 Juli 2014.

Kesimpulan tersebut diambil dari observasi mereka atas respon tanaman Arabidopsis terhadap suara yang dikeluarkan ulat saat hewan itu memakan dengan menggigit daun-daun tanaman Arabidopsis itu.

Setelah gigitan-gigitan awal ulat pada daun-daun Arabidopsis yang "didengar" oleh tanaman itu, langsung tanaman itu merespon dengan meningkatkan konsentrasi kimiawi pertahanan dalam sistemnya, yang membuat daun-daunnya yang di awal terasa lezat, jadi berubah berasa tidak enak dan beracun (toxic).

Ini semacam bekerjanya sistem imunitas (kekebalan) dalam tubuh manusia.

Cuma, jangan kemudian bayangkan bahwa tanaman itu memiliki telinga seperti manusia.

Baca juga: Kisah Uang Berkaki Empat dan Pandemi

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved