serba serbi
SAKRAL! Tarian Sanghyang Jaran Pura Puseh Sari Banjarangkan, Penari Injak Bara Api
Tarian Sang Hyang Jaran di Pura Puseh Sari, Desa Banjarangkan ini, dipentaskan setahun sekali.di Pura Puseh Taman Sari Banjarangkan.
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Alunan tembang sakral, mengiringi tarian Sang Hyang Jaran saat piodalan di Pura Puseh Taman Sari, Desa Banjarangkan.
Pada Buda Umanis Medangsia, Rabu (29/6/2022) malam.
Tarian sakral ini, dipercaya mampu menetralisir bumi dan menolak bala (penyakit).
Khususnya untuk warga di Desa Banjarangkan.
Tarian Sang Hyang Jaran di Pura Puseh Sari, Desa Banjarangkan ini, dipentaskan setahun sekali.
Hanya saat piodalan di pura setempat.
Baca juga: BULE NGEYEL! Kembali Panjat Pohon Sakral di Tabanan, Ini Kata PHDI Bali
Baca juga: KISAH Sakral Patung Bayi Sakah di Desa Batuan Gianyar

Bagi warga di Desa Banjarangkan, tarian sakral ini sarat akan makna religius yang warisan dari warga pengempon Pura Taman Puseh Sari.
Pada tarian sakral ini, terdapat atribut yang sangat disakralkan warga.
Berupa kuda yang terbuat dari kayu.
Kuda ini dilengkapi atribut lainnya dengan tiga warna, yakni sang hyang berwarna putih, sang hyang berwarna kuning, dan sang hyang berwarna poleng (hitam putih).
"Kami meyakini, tarian ini dipentaskan untuk menetralisir bumi dan menolak bala," ujar Bendesa Adat Banjarangkan, A.A Gede Dharma Putra, Rabu (29/6).
A.A Gede Dharma Putra menjelaskan, karena termasuk tarian sakral.
Maka pementasan Sang Hyang Jaran dilakukan dengan rangkaian upacara yang kompleks.

Ritual diawali dengan persembahyangan bersama, yang dipimpin pemangku pemucuk (pemangku utama) di Pura Puseh Taman Sari.
Setelah sembahyang berakhir, sekaa atau kelompok kidung Sang Hyang Jaran akan duduk bersila, tepat di depan bangunan pengaruman.