Berita Buleleng

Peternak Desa Pejarakan Akhirnya Bersedia Sapinya Dipotong Bersyarat, Pemerintah Janji Beri Bantuan

Setelah sempat menjalani beberapa kali pendekatan, seluruh petani sapi di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng akhirnya bersedia hewan ternakn

Ratu Ayu Astri Desiani/
16 ekor sapi di Desa Pejarakan dipotong bersyarat, Minggu (17/7) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Setelah sempat menjalani beberapa kali pendekatan, seluruh petani sapi di Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak, Buleleng akhirnya bersedia hewan ternaknya dipotong bersyarat.

Petani setuju dengan keputusan tersebut, setelah pemerintah berjanji akan memberikan ganti rugi.

Dari pantauan di Desa Pejarakan Minggu 17 Juli 2022, tercatat ada 16 ekor sapi yang mulai dipotong bersyarat.

Sementara total sapi yang terserang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di desa tersebut mencapai 156 ekor, milik dari 39 petani.

16 ekor sapi di Desa Pejarakan dipotong bersyarat, Minggu (17/7)
16 ekor sapi di Desa Pejarakan dipotong bersyarat, Minggu (17/7) (Ratu Ayu Astri Desiani/)

Pemotongan pun akan dilakukan secara bertahap, dengan melibatkan tukang jagal asal Buleleng. Daging yang dihasilkan kemudian dibeli oleh tukang jagal dengan harga Rp 7 juta hingga Rp 8 juta per ekor, tergantung ukuran.

Kepala Dinas Pertanian Buleleng, Made Sumiarta mengatakan, total sapi yang terindikasi terkena PMK yang masih hidup saat ini mencapai 240 ekor. Sapi- sapi itu tersebar di lima desa yang ada di Kecamatan Gerokgak seperti Desa Pengulon, Sumberkima, Pejarakan, Tinga-Tinga dan Gerokgak.

Khusus di Desa Pejarakan, seluruh petani bersedia mengikuti intruksi pemerintah pusat, agar sapinya dipotong bersyarat. Sementara untuk desa-desa yang lain, Sumiarta mengaku masih melakukan negosiasi harga, dengan mendatangkan tukang jagal dari Denpasar. "Intinya harga yang ditawarkan harus menguntungkan petani. Jangan sampai petani dirugikan. Petani sedang berduka, jadi tukang jagal harus membeli sapi- sapi itu dengan harga yang wajar," terangnya.

Sumiarta menyebut, bagi petani yang bersedia sapinya dipotong bersyarat, Kementerian Pertanian akan memberikan bantuan atau kompensasi berupa uang sebesar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. Namun rencana pemberian bantuan itu baru disampaikan secara lisan. Selain itu, Pemkab Buleleng juga berencana akan memberikan bantuan berupa bibit sapi, untuk mengganti sapi- sapi petani yang dipotong bersyarat akibat terserang PMK. Namun hal itu masih didiskusikan dengan DPRD Buleleng.

"Jadi tukang jagal misalnya membeli sapi petani sekitar Rp 7 juta atau Rp 8 juta tergantung besar-kecilnya sapi. Kemudian nanti pemerintah pusat juga akan menambahkan memberikan bantuan sekitar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. Jadi dengan adanya bantuan seperti ini, setidaknya petani tidak merugi," katanya.

Sementara salah satu petani sapi asal Desa Pejarakan bernama I Gede Adnyana mengatakan, sapi miliknya yang terserang PMK berjumlah 13 ekor. Sabagian besar merupakan sapi betina. Adnyana pun tidak memungkiri, sebelumnya ia sempat menolak intruksi pemerintah pusat, untuk melakukan pemotongan bersyarat agar penyebaran tidak semakin meluas.

Namun setelah menjalani mediasi bersama Satgas Penanganan PMK Buleleng pada Sabtu kemarin, Adnyana akhirnya bersedia 13 ekor sapinya dipotong bersyarat. Sebab pemerintah telah berjanji akan memberikan kompensasi. "Akhirnya saya relakan untuk dipotong bersyarat, karena pemerintah berjanji akan memberikan bantuan. Ini juga agar PMK cepat hilang," katanya.

Adnyana menyebut, sapi miliknya terserang PMK dibeli oleh tukang jagal seharga Rp 8 juta. Sementara sebelum adanya PMK, harga sapi dengan berat rata-rata 350 kilogram, mencapai Rp 15 juta per ekor. "Sedih sih, tukang jagal beli dengan harga murah. Tapi demi keamanan bersama, ya saya relakan saja sapinya dipotong bersyarat," ucapnya. (rtu)

BERITA LAINNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved