Berita Buleleng
Setelah Diserap Perumda, Harga Cabai di Buleleng Berangsur Turun
Harga cabai di Buleleng saat ini mulai turun. Ini setelah Satgas Ketahanan Pangan Buleleng menugaskan dua perusahaan umum daerah (Perumda) menyerap
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Harga cabai di Buleleng saat ini mulai turun. Ini setelah Satgas Ketahanan Pangan Buleleng menugaskan dua perusahaan umum daerah (Perumda) untuk menyerap produk para petani lokal.
Kepala DKPP Buleleng, Gede Putra Aryana pada Senin 25 Juli 2022 kemarin mengatakan, sejak harga pangan melonjak tinggi, Satgas Ketahanan Pangan Buleleng telah menugaskan Perumda Swatantra dan Perumda Pasar Arga Nayottama untuk meyerap komoditas petani lokal, seperti cabai rawit, bawang hingga telur.
Hal ini dilakukan agar produk petani lokal tidak dibeli oleh pengepul dan dijual ke luar daerah.
Baca juga: RSUD Buleleng Tambah Ruang Payanan Cuci Darah, Sebulan Bisa Layani 1.000 Kali Tindakan
Sebab, berdasarkan isu yang didapatkan oleh Satgas, ada beberapa oknum yang memanfaatkan kondisi saat seluruh daerah di Indonesia mengalami krisis pangan.
Salah satunya dengan menimbun cabai, atau menjualnya ke luar daerah.
Terlebih, berdasarkan data yang diterima dari Dinas Pertanian Buleleng, kebutuhan masyarakat terhadap cabai rawit mencapai 1.700 ton setiap bulan.
Sementara produksi di petani setiap bulan mencapai 3.000 ton. Sedangkan cabai besar kebutuhan masyarakat sekitar 0.25 ton per hari, sementara produksi di petani 0.41 ton per hari.
Baca juga: 6 Rampok di Buleleng Sekap Satpam Lalu Bobol Brankas Rp 90 Juta, 2 Pelaku Pecatan TNI
"Artinya masih surplus. Ada kenaikan harga beberapa waktu lalu, diduga karena ulah oknum yang memanfaatkan situasi krisis pangan di Indonesia. Kami belum tau kebenarannya, itu info yang kami dengar dari petani. Saat ini masih diselidiki, karena di dalam Satgas juga ada kepolisian," ucapnya.
Setelah menugaskan dua Perumda untuk menyerap produk petani lokal, harga cabai dan bawang pun ungkap Aryana kini berangsur turun.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh pihaknya, harga cabai rawit sebelumnya mencapai Rp90 ribu per kilo, saat ini turun menjadi Rp50 ribu per kilo. Sementara cabai besar sebelumnya Rp 80 ribu per kilo, kini turun menjadi Rp 60 ribu per kilo.
Baca juga: PMK di Buleleng Dapat Perhatian Khusus, Banyak Menolak Pemotongan Bersayarat
"Setelan diserap oleh dua Perumda ini, harga di pasaran sudah mulai turun. Karena Perumda menjualnya dengan harga yang sesuai, bahkan di bawah dari harga pasar. Semoga dengan harga yang mulai turun ini, daya beli masyarakat semakin tinggi," ucapnya.
Selain itu, Aryana juga mengimbau kepada petani untuk berinovasi. Saat produksi cabai lebih banyak, petani diharapkan tidak membiarkan cabai-cabainya busuk.
Melainkan agar diolah menjadi cabai kering, sehingga tetap memiliki nilai ekonomis.
"Cabai yang over produksi harus diolah agar bermanfaat. Salah satunya dibuat cabai kering, atau cabai bubuk. Kami harap juga masyarakat agar terbiasa mengonsumsi cabai kering, jangan cabai segar terus," jelasnya. (*)
Berita lainnya di Berita Buleleng
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/DKPP-Buleleng-saat-melakukan-survei-harga-cabai-di-pasar.jpg)