Berita Buleleng

UNIK! Kertia Olah Manggis Jadi Minuman Brem Karena Harga Sering Anjlok

Buah manggis cukup banyak tumbuh di daerah Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Namun petani kerap merugi, karena harganya anjlok saat musim pan

Tribun Bali/Ratu
Jero Putu Kertia menunjukan minuman brem manggis buatannya. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Buah manggis cukup banyak tumbuh di daerah Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Buleleng. Namun petani kerap merugi, karena harganya anjlok saat musim panen.

Tak ingin terus mengalami kondisi seperti itu, ide kreatif pun muncul dari Jero Putu Kertia (55).

Ia mengolah manggis menjadi minuman beralkohol, yang biasa disebut dengan brem.

Kepada Tribun Bali, Kertia menuturkan, minuman brem manggis ini mulai dibuat sejak 2019 lalu.

Jero Putu Kertia menunjukan minuman brem manggis buatannya.
Jero Putu Kertia menunjukan minuman brem manggis buatannya. (Tribun Bali/Ratu)

Kala itu, kebunnya dengan luas setengah hektar menghasilkan buah manggis yang melimpah. Sekali panen mampu menghasilkan buah manggis mencapai satu ton.

Namun saat dijual, harga manggis sangat anjlok. Mencapai Rp 2.500 per kilogram. Sementara manggis tidak bisa disimpan dalam waktu yang lama, karena cepat busuk. Alhasil, buah manggisnya kerap terbuang, hingga sebanyak tiga kwintal.

Akibat kondisi tersebut, muncul lah ide kreatif Kertia. Ia mengolah buah manggis itu menjadi minuman fermentasi, yang mengadung alkohol atau disebut dengan brem. Pembuatan brem manggis ini kata pria asal Banjar Dinas Delod Pura, Desa Sidatapa juga dimentori oleh Dinas Pertanian Buleleng dan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja.

Kertia menyebutkan, membuat brem manggis tidak lah sulit. Buah manggis sebanyak 10 kilogram, direbus terlebih dahulu. Kemudian didinginkan, lalu dicampurkan dengan 18 liter air serta ragi. Selanjutnya manggis difermentasi selama satu bulan. Hingga akhirnya menghasilkan minuman fermentasi yang mengadung alkohol.

Dikatakam Kertia, kadar alkohol yang terkandung dalam minuman buatannya ini mencapai 14 persen. Minuman itu dikemas menggunakan botol kaca berukuran 380 mililiter, lalu dijual dengan harga Rp 35 ribu.

Sejauh ini, Kertia mengaku minumannya ini baru dijual disekitar Desa Sidatapa. Ia belum berani menjualnya ke pasaran yang lebih luas, karena belum mengantongi izin edar. Hal ini juga membuat pria yang kesehariannya bekerja sebagai petani manggis dan durian itu hanya mampu memproduksinya dengan jumlah terbatas. Yakni hanya 15 liter per bulan.

"Saya baru punya Nomor Induk Berusaha (NIB). Jadi jualnya baru di sekitar Desa Sidetapa, karena belum ada izin edar. Mau mengajukan ke BPOM, belum punya dana. Ini masih bisnis kecil-kecilan. Kalau mengajukan ke BPOM itu, biayanya lumayan. Jadi sementara hanya dijual ke tetangga saja," katanya saat ditemui di Pasar Rakyat yang digelar di RTH Taman Bung Karno, Buleleng.

Kertia menyebut, karena masih bisnis kecil-kecilan, pembuatan minuman brem manggis ini hanya melibatkan ia dan keluarganya. Dalam sebulan, omset yang didqpatkan sekitar Rp 500 ribu.

Selain manggis, Kertia juga membuat brem dari anggur hitam. Bahkan ia juga sempat berinovasi membuat brem dari ubi ungu. Namun belakangan terkendala dengan bahan baku. Kertia mengaku kerap kesulitan untuk mendapatkan ubi ungu. Sehingga saat ini ia hanya fokus membuat brem dari manggis dan anggur hitam.

"Minuman saya ini alkoholnya lebih halus. Yang rasa manggis kadar alkoholnya hanya 14 persen. Kalau anggur hitam 18 persen. Lebih halus rasanya. Tidak seperti arak, keras. Kalau minum, pelanggan itu biasanya mencampurnya dengan minuman bersoda," ucapnya. (rtu)

BERITA LAINNNYA

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved