Berita Badung

Giri Prasta Tak Masalah Pasar Hewan Beringkit Tutup Hingga G20 Berakhir, Oleng akan Disuntik Modal

Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta tidak mempermasalahkan jika pasar hewan beringkit, yang berlokasi di Jalan Raya Mengwitani ditutup sampai perhelat

Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Marianus Seran
istimewa
Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta saat ditemui usai Sidang Paripurna pada Rabu 24 Agustus 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta tidak mempermasalahkan jika pasar hewan Beringkit, yang berlokasi di Jalan Raya Mengwitani ditutup sampai perhelatan G20 mendatang.

Pasalnya penutupan pasar adalah upaya pemerintah pusat untuk menekan kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Bali.

Hal itu pun ditegaskan Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta saat ditemui usai rapat Paripurna DPRD Badung, Rabu 24 Agustus 2022. 

"Kita di Badung  mendukung kebijakan pusat ini demi kepentingan Bangsa dan Negara," tegas Giri Prasta.

 Pihaknya mengaku tidak ingin perhelatan G20 yang dilaksanakan di Badung ada masalah gara-gara kasus PMK.

Sehingga apa pun kebijakan pusat menjadi penyambung kebijakan di daerah.

"Saya pikir kita harus tunduk dengan pemerintah pusat.

Baca juga: Tiba di Bali, Vira Minta Diantar ke Rumah Denpasar, Wardani: Kami Tidak Berani Memaksakan

Kita bicara ini tentang penyakit mulut dan kuku.

Jangan sampai akibat hal yang sepele, karena yang datang ini adalah betul-betul orang top dunia dan pejabat-pejabat dunia.

Kami di Kabupaten Badung harus mendukung sepenuhnya," tegasnya kembali.

Giri Prasta  berapa semua pihak bisa memaklumi kondisi ini dan sebisa mungkin mencegah penyebaran wabah PMK.

Mengingat PMK adalah virus yang bisa menyebar secepatnya.

"Bila mana ini ditutup oke nggak masalah, yang mana ini demi kepentingan negara. untuk dunia lho," kata Giri Prasta.

Pihaknya pun meyakini Perumda Pasar Mangu Giri Sedana yang menaungi Pasar Hewan Beringkit tetap eksis meski salah satu sumber pendapatannya dari hasil transaksi sapi hilang selama penutupan Pasar Sapi.

Kendati demikian juga berharap pihak Perumda bisa berinovasi dan membuat terobosan baru lewat unit-unit pasar yang lain. 

"Meski pendapatan asar Beringkit ini ditutup, namun kan juga masih ada pasar yang lain. paling tidak harus bisa menghidupi  karyawan-karyawan kami yang ada disitu," terangnya.

Baca juga: Aksi Nengah Rudiati, Ibu Satu Anak di Bali Kibarkan Bendera Merah Putih di Kedalaman Laut 18 Meter

Bilamana nanti imbas dari lamanya penutupan Pasar sapi ini Perumda Pasar Mangu Giri Sedana sampai oleng, maka pihaknya di Pemerintah Daerah akan segera memberikan suntikan modal.

"Itu kalau memang pengurus kami yang ada di PD Pasar dan Badan Pengawasnya, kalau pun itu tidak bisa kita bantu dengan penyertaan modal dong," imbuhnya.

Untuk diketahui Pasar Hewan Beringkit, Mengwitani hingga kini masih ditutup. Penutupan kemungkinan besar akan dilakukan sampai G20 berakhir.

Selain itu, Pasar Hewan Beringkit, juga terancam  mengalami kerugian lebih dari Rp 2 Miliar. Hal itu lantaran pasar hewan terbesar di Bali akan tutup  hingga perhelatan G20 berakhir. 

Penutupan pasar yang menjadi sentra jual beli ternak sapi di Bali ini merupakan kebijakan pemerintah pusat guna mencegah meluasnya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Bahkan pihak perumda sebelumnya memprediksi jika pasar di tutup sampai penghujung tahun, kerugian bisa di alami Rp 3 Miliar lebih.

Direktur Utama Perumda Pasar Mangu Giri Sedana, I Made Sukantra tak menampik perihal tersebut.

Menurutnya, penutupan pasar sapi telah berlangsung sejak tanggal 5 Juli sampai 19 Juli 2022 dan diperpanjang hingga 1 Agustus 2022.

Namun kenyataannya sampai saat ini, transaksi sapi masih ditutup. Bahkan belum diketahui kapan akan bukanya.

"Masih tutup, sesuai informasi dari tim pengendali PMK provinsi, disampaikan lockdown sampai berakhir G20," katanya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved