Berita Bali

Pasar Hewan Dibuka Kembali Pasca Ditutup 2 Bulan, Lalu Lintas Ternak Babi dan Sapi Masih Dibatasi

Pasca ditutup hampir dua bulan karena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merebak di Bali, kini Pemerintah Provinsi Bali mengizinkan pembukaan kembali pasa

Tribun Bali/Muhammad Fredey Mercury
Pasar Hewan Kayuambua, Kecamatan Susut kembali beroperasi setelah dua bulan Lockdown. Sesuai jadwal, pasar hewan ini mulai beroperasi tanggal 27 September. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pasca ditutup hampir dua bulan karena Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merebak di Bali, kini Pemerintah Provinsi Bali mengizinkan pembukaan kembali  pasar hewan yang ada di Bali.

Dibukanya kembali Pasar Hewan ini diatur dalam Surat Nomor 105/SatgasPMK/IX/2022 tentang Pembukaan Kembali Pasar Hewan, yang dikeluarkan Minggu 25 September 2022.

Surat tersebut dikeluarkan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra selaku Ketua Satgas Penanganan PMK Provinsi Bali. Surat ditujukan kepada Ketua Penanganan PMK Kabupaten/Kota se Bali, untuk memperbolehkan pembukaan kembali pasar hewan.

"Pembukaan kembali terhadap pasar hewan ini agar disertai dengan pengawasan yang ketat termasuk melakukan testing dan vaksin serta biosecurity di pasar hewan oleh Satgas Penanganan PMK Kabupaten/Kota se-Bali. Terus dievaluasi, apabila terjadi lonjakan kasus baru PMK, maka pasar hewan akan ditutup kembali," cetus Dewa Made Made Indra seperti dikutip dari surat tersebut.

Untuk diketahui bahwa PMK adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular. Penyakit ini menyerang semua hewan berkuku belah/genap, seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba termasuk juga hewan liar seperti gajah, rusa dan sebagainya.

PMK ini sangat cepat penularannya. Pengendaliannya sangat sulit dan sangat kompleks, karena dibutuhkan vaksin serta perlu pengawasan lalu lintas hewan yang sangat ketat.

“PMK juga sangat merugikan perekonomian di Bali khususnya para peternak. Karena itu, untuk mencegah penyebarannya yang semakin meluas, Pemprov Bali sempat menerbitkan kebijakan penutupan pasar hewan terbesar di Bali, Pasar Hewan Beringkit, juga penutupan lalu lintas ternak pada pelabuhan-pelabuhan yang ada di Bali seperti Gilimanuk dan Celukan Bawang,” demikian disebutkan dalam siaran pers Pemprov Bali, Minggu (25/9).

Dalam penanganannya, guna menanggulangi PMK yang sudah merebak, Pemprov Bali melalui Satgas PMK sempat melakukan pemusnahan ternak yang terjangkit.

Selain di Kabupaten Gianyar, PMK juga merebak ke kabupaten lain  seperti Buleleng, Karangasem, Bangli, Klungkung, Denpasar, dan Jembrana.

Dalam hal ini, Pemprov Bali pun meminta dukungan ke Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan agar mendapatkan bantuan vaksin PMK yang pemanfaatannya difokuskan ke daerah-daerah yang sudah terindikasi kasus PMK.

“Setelah melakukan evaluasi situasi bersama Satgas Penanganan PMK Nasional, dan dirasa penyebaran PMK mulai teratasi, maka Ketua Satgas Penanganan PMK Provinsi Bali pun memberikan kewenangan kepada Satgas Penanganan PMK Kabupaten/Kota se-Bali untuk melakukan pembukaan kembali pasar hewan untuk ternak sapi, kerbau, kambing dan babi,” demikian siaran pers Pemprov Bali.

Tak hanya mengevaluasi kebijakan untuk pasar lokal Bali, Ketua Satgas Dewa Made Indra juga menerbitkan surat yang mengatur Lalu Lintas Hewan Ternak Keluar Bali bernomor 104/SatgasPMK/IX/2022 yang juga ditujukan serupa kepada Ketua Satgas Kabupaten/Kota se Bali.

Dalam surat tersebut, Ketua Satgas Dewa Made Indra menyampaikan bahwa lalu lintas ternak keluar Bali untuk hewan ternak babi dan sapi dapat dilakukan tetapi terbatas pada babi dan sapi untuk dipotong.

Di samping itu hewan ternak babi dan sapi untuk dipotong  harus dalam kondisi sehat dan tidak ada indikasi penyakit, dengan mendapatkan surat keterangan sehat dari pihak berwenang. Serta untuk alat dan kendaraan angkut ternaknya pun wajib mendapat penanganan biosecurity.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved