G20 di Bali

Menkes Sampaikan Semangat ‘Tri Hita Karana’ Pada 2nd Health Ministers Meeting di Bali

Tri Hita Karana, filosofi tersebut menjadi prinsip dalam upaya pulih dari pandemi Covid-19.

Istimewa
2nd Health Ministers Meeting di Bali - Menkes Sampaikan Semangat ‘Tri Hita Karana’ Pada 2nd Health Ministers Meeting di Bali 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Orang Bali percaya pada “Tri Hita Karana” yang dalam terjemahan harfiah berarti tiga penyebab kemakmuran, yakni harmoni dengan Tuhan, harmoni dengan lingkungan, dan harmoni antar manusia.

Selama berabad-abad, filosofi harmoni ini telah membimbing orang Bali untuk mengutamakan kerja sama dan kasih sayang antara satu sama lain, untuk bertahan hidup bersama dan makmur, terlepas dari keadaan hidup yang sulit.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, filosofi tersebut menjadi prinsip dalam upaya pulih dari pandemi Covid-19.

“Kita hadir dalam pertemuan ini dengan perspektif dan perbedaan yang ada. ‘Tri Hita Karana’ memanggil kita untuk bekerja sama secara harmonis, untuk membangun dunia yang lebih baik dengan kesehatan global yang lebih kuat secara arsitektur dan menjaga kesehatan generasi saat ini dan masa depan,” ujar Menkes Budi pada pembukaan pertemuan Menteri Kesehatan kedua (2nd Health Ministers Meeting) di Badung, Bali, Kamis 27 Oktober 2022.

Baca juga: Jadi Tuan Rumah Asia for Earth 2022, Rektor Universitas Dwijendra Paparkan Konsep Tri Hita Karana

Filosofi Tri Hita Karana diimplementasikan dalam setiap presidensi G20.

Di mana di setiap pertemuannya terdapat hasil yang nyata untuk bangkit dari pandemi dan siap menghadapi pandemi berikutnya.

"Sebelumnya telah dibahas tiga agenda kesehatan global selama tiga pertemuan Kelompok Kerja Kesehatan (HWG), pertama harmonisasi standar protokol kesehatan global, kedua membangun ketahanan sistem kesehatan global, dan ketiga memperluas manufaktur global, pusat penelitian untuk pencegahan, kesiapsiagaan, dan respons pandemi global,” kata Menkes Budi.

Melalui side event, dibahas juga tantangan kesehatan yang mendesak antara lain tuberkulosis, One Health, dan Resistensi Antimikroba (AMR).

Dari kegiatan tersebut, terdapat sejumlah hasil nyata yang telah dicapai bersama, yakni Pertama, pembentukan Dana Perantara Keuangan Pencegahan Pandemi, Kesiapsiagaan, dan Respon (PPR FIF).

“Diprakarsai oleh Presidensi G20 Arab Saudi dan Italia, dilanjutkan dalam Kepresidenan G20 Indonesia, PPR FIF kini telah terbentuk dan memulai operasinya dengan total komitmen lebih dari 1,4 miliar USD, diperoleh dari 20 donor dan 3 filantropi,” tutur Menkes Budi.

Kedua, membuat Access to Covid-19 Tools-Accelerator (ACT-A).

Hal ini untuk melengkapi pembiayaan PPR pandemi, mobilisasi sumber daya kesehatan esensial adalah yang terpenting.

Tinjauan ini akan membantu membangun kerangka kerja masa depan bagi semua negara untuk mengakses penanggulangan medis selama keadaan darurat kesehatan.

Ketiga, optimalisasi pengawasan genomik global.

Selain menyediakan sumber daya, memperkuat pengawasan genomik untuk menahan risiko pandemi juga sangat penting.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved