Berita Nasional

Dunia Diramal Resesi pada 2023, Airlangga: Minyak Sawit Bisa Hindarkan Indonesia dari Resesi

Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang dijuluki sebagai Badai Sempurna (Perfect Storm) ini, perekonomian Indonesia diprediksi cukup baik

Penulis: Sunarko | Editor: Sabrina Tio Dora Hutajulu
Tribun-Bali
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia/Apindo Hariyadi Sukamdani (kiri) didampingi Ketua Bidang Perpajakan dan Fiskal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Bambang Aria Wisena, dalam konferensi pers di sela konferensi minyak sawit tahunan terbesar dunia (IPOC) di BICC, Nusa Dua, Badung, Bali, 2 November 2022. 

TRIBUN-BALI.COM, NUSA DUA - Kondisi perekonomian dunia diprediksi akan mengalami resesi pada tahun 2023, yang salah-satunya dipicu oleh konflik geopolitik, khususnya perang Rusia-Ukraina, dengan rentetan dampaknya.

Suramnya kondisi ekonomi ini ditandai antara lain oleh penurunan pertumbuhan ekonomi, tingginya inflasi dan menurunnya daya beli.

Baca juga: Kunjungan Ke Pusat Perbelanjaan Naik 70 Persen dari 2019, Resesi 2023 APPBI Bali Lakukan Hal Ini

Baca juga: Kunjungan Ke Pusat Perbelanjaan Naik 70 Persen dari 2019, Resesi 2023 APPBI Bali Lakukan Hal Ini

Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia yang dijuluki sebagai Badai Sempurna (Perfect Storm) ini, perekonomian Indonesia diprediksi masih akan cukup baik tahun depan, bahkan akan terhindar dari resesi, kendati pertumbuhannya agak menurun.

“Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi Indonesia akan merupakan salah-satu negara yang terhindar dari resesi. Ini karena pemulihan ekonomi Indonesia masih on track (berada di jalur yang sesuai),” kata Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam sambutannya pada pembukaan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC), Rabu 2 November 2022 di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Badung, Bali.

Salah-satu penyelamat Indonesia dari kemungkinan resesi itu, kata Airlangga, adalah kontribusi komoditas sawit.

IPOC yang merupakan konferensi tahunan minyak sawit terbesar dunia itu dihadiri oleh lebih dari 1.500 pelaku bisnis dari sekitar 35 negara, dan akan berlangung hingga tanggal 4 November 2022.

Terbukti bahwa selama pandemi Covid-19, sawit menjadi komoditas yang tangguh dalam perekonomian Indonesia. Indonesia kini menguasai sekitar 58 persen pangsa pasar minyak sawit dunia, dan mampu memproduksi 40 persen dari total minyak nabati dunia.

“Kami menegaskan bahwa industri kelapa sawit berkontribusi dalam menopang pemulihan ekonomi. Tidak hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga aspek sosial dan lingkungan masyarakat,” ucap Airlangga.

Secara terpisah Ketua Bidang Perpajakan dan Fiskal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Bambang Aria Wisena, juga mengungkapkan bahwa industri sawit memiliki kemampuan untuk bertahan sekaligus menyelamatkan perekonomian Indonesia di tengah berbagai gempuran krisis.
Industri sawit telah berkontribusi Rp 500 triliun untuk pemasukan devisa ekspor negara setiap tahunnya.

Selain itu, kata dia, komoditas ini memberikan lapangan kerja bagi 17 juta orang. Jika setiap pekerja itu menghidupi tiga orang, maka sekitar 51 juta orang Indonesia terlibat dalam usaha sawit.

Keunggulan kelapa sawit dari aspek produktivitas dan ekonomi, ucap Bambang Aria, mengakibatkan komoditas ini mendapatkan tekanan luar biasa dari para pesaingnya. Khususnya dari Uni Eropa.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani pun mengapresiasi kontribusi industri minyak sawit terhadap perekonomian nasional. Karena itu, kata dia, perumusan kebijakan industri minyak sawit harus dilakukan dengan hati-hati.

“Belajar dari gejolak harga dan suplai minyak goreng awal tahun ini, jangan sampai pada akhirnya yang mendapatkan keuntungan adalah negara lain karena ketika harga sawit tinggi kita justru stop ekspor,” kata Hariyadi dalam jumpa pers di sela acara IPOC.

Hariyadi berharap pemerintah bisa lebih berhati-hati dalam membuat kebijakan terkait industri sawit. Karena sebagai komoditas perdagangan global, fluktuasi harga CPO (Crude Palm Oil/ minyak sawit mentah) sepenuhnya ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasar.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved