G20 di Bali
Pemprov Bali Gelontorkan Dana Rp 400 Juta untuk Penari Sambut Kepala Negara KTT G20
Bunyi tetabuhan gamelan yang rancak dan gerak gemulai para penari Pendet sambut Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada, Minggu 13 Novembe
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Marianus Seran
“Dengan seni kita bisa mengusik kesadaran para pimpinan negara bahwa kita memang harus bersama-sama dalam menghadapi kondisi dunia seperti sekarang ini.
Oleh karenanya, pas sekali kalau tarian ini dibawakan menyambut delegasi G20.
Itu kan misi untuk kebersamaan para kepala negara supaya bersama-sama memikirkan kondisi dunia tanpa pilih kasih,” katanya.
Baca juga: Indonesian People Assembly dan Bali Tidak Diam Akan Diskusi Bahas KTT G20 dari Sudut Pandang Rakyat
Baik tari pendet upacara maupun tari pendet penyambutan sama-sama menggunakan janur. Pada tari pendet upacara, janur berfungsi sebagai ubo rampe sesaji.
Sedangkan pada tari pendet penyambutan (puja astuti), janur adalah dekorasi yang bersifat mempercantik properti.
“Lalu untuk kostum, penari memakai selendang kuning merah sebagai simbol kehormatan.
Di gerakan, ada kedua tangan dikatupkan di depan itu juga merupakan simbol penghormatan,” kata Dibia.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bali sendiri menyiapkan sebanyak 176 penari dari 8 sanggar untuk sambut kepala negara KTT G20 yang datang ke Bali.
“Ada 8 sanggar, masing-masing 22 penari. Sekitar Rp. 400 juta (dana yang dikeluarkan oleh Pemprov Bali untuk para penari).
Hanya menyambut sekitar 17 Presiden dan Perdana Menteri,” kata, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Gede Arya Sugiartha singkat. (*)