G20 di Bali

Atasi Makanan Lebih KTT G20, SOS Kirim Surat ke Hotel, Gandeng Ukraina dan Amerika Bahas Makanan

Scholars Of Sustenance (SOS) hadir untuk membantu meminimalisir makanan lebih saat gelaran KTT G20, gandeng Ukraina dan Amerika bahas makanan.

Penulis: Putu Yunia Andriyani | Editor: Putu Kartika Viktriani
Tribun Bali/Putu Yunia Andriyani
Penerimaan donasi Viking Sunset Studio kepada Scholars Of Sustenance (SOS) untuk mendukung penyaluran makanan lebih kepada yang membutuhkan di Bali dan Jawa 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ada banyak jamuan makanan dan minuman yang disajikan dalam perhelatan internasional G20.

Pertanyaannya yang tersirat adalah apakah makanan tersebut akan habis dimakan oleh kepala negara dan para delegasi G20?

Jika tak habis, lantas ke mana kah lebihnya makanan tersebut akan disalurkan?

Menjawab pertanyaan tersebut, Scholars Of Sustenance (SOS) hadir untuk membantu meminimalisir makanan lebih tersebut.

Ditemui di kantor SOS yang berlokasi di Sanur, Bo H. Holmgreen selaku founder SOS mengatakan akan ada sekitar 23.000 orang hadir dalam G20.

Ia memperkirakan akan ada masalah terkait sampah makanan apabila tidak ada manajemen pengaturan yang baik terkait makanan.

Lelaki yang akrab disapa Bo ini kemudian membantu penanganan dengan membuka wadah penyaluran makanan.

“Kami telah mengirimkan pesan kepada hotel tempat delegasi menginap yang berbunyi kami siap mengelola makanan lebih apabila ada.

Kami ingin mendapatkan apa saja yang bisa diberikan karena kami harapkan sisa makanan tersebut tidak berakhir di tempat sampah,” kata Bo.

Baca juga: Kudapan Khas Indonesia Memikat Para Jurnalis Mancanegara Peliput KTT G20 di Bali

Bo menegaskan programnya sangat ketat dan sangat bertanggung jawab terhadap makanan.

Ada keyakinan pada dirinya semua makanan yang sisa atau berlebih masih ada yang layak dikonsumsi dan diserahkan kepada yang membutuhkan.

Ia tak menargetkan jumlah makanan yang didapat tapi ia harapkan banyak yang bisa didapat.

“Saya sempat menghadiri acara B20 dan black and white dinner, saya melihat banyak stasiun food di sana.

Dari sini saya membayangkan bisa memberikan Wagyu beef kepada orang-orang di “kampung” yang membutuhkan, tentu akan luar biasa,” sahut Bo.

Dalam peralatan G20, Bo yang berasal dari Denmark ini sangat senang dan tertarik diundang menjadi pembicara tentang makanan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved