Piala Dunia 2022 Qatar
Preview Inggris vs Wales Piala Dunia 2022: Lebih Baik Perang di Lapangan daripada Perang Sungguhan
Pada 30 November 2022 nanti, tim Wales akan berhadapan dengan tim England pada lanjutan laga di Grup B Piala Dunia 2022 Qatar. Simak previewnya.
Penulis: Sunarko | Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Tidak ada tim-tim terpisah England, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara.
Namun, Piala Dunia (FIFA World Cup) ternyata spesial dan kasus yang berbeda.
Di Piala Dunia, masing-masing asosiasi sepak bola Home Nations (England/Inggris, Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara) teryata bertahan untuk tetap menampilkan tim-timnya sendiri.
Prestise cabang olah raga sepak bola di Olimpiade dianggap lebih rendah dibandingkan prestise Piala Dunia.
Jangan coba-coba mengutak-atik komposisi itu, dan memaksakan Inggris Raya tampil sebagai satu timnas di Piala Dunia.
Akan menjadi isu politik apabila pemerintah Inggris Raya memaksa menggabungkan empat tim jadi hanya satu tim Inggris Raya. Semangat suku-bangsa Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara bisa terpicu bangkit, dan terbuka kemungkinan mereka menuntut pemisahan diri dari Inggris Raya, khususnya Skotlandia yang berpotensi lebih besar.
Melebur tim-tim sepak bola dari empat Home Nations menjadi satu tim Inggris Raya juga bertentangan dengan tren desentralisasi politik untuk mereka, demikian kata William Allen dalam artikelnya yang berjudul “Why do England, Scotland, Wales & Northern Ireland play as separate teams if they belong to UK?” di www.en.as.com pada 12 Juni 2021.
Pengamat bola Szymanski bahkan percaya, memaksakan pembentukan satu timnas Inggris Raya akan berkontribusi pada pecahnya negara kesatuan Inggris Raya.
Andaikata Inggris Raya benar-benar menekan FIFA, sehingga akhirnya hanya ada tim Inggris Raya yang tunggal di Piala Dunia daripada memiliki empat tim Home Nations seperti selama ini, “maka Skotlandia akan benar-benar menuntut kemerdekaan,” ucap Szymanski sebagaimana dikutip oleh www.allfootballapp.com.
Szymanski menyebutkan, rakyat Skotlandia telah mengadakan referendum kemerdekaan (untuk pisah dari Inggris Raya) pada tahun 2014 lalu, dan suara pro-kemerdekaan hanya kalah tipis dari suara pro-Inggris Raya.
Kalau dipaksakan membentuk satu tim Inggris Raya, kata Szymanski, maka kemungkinan pendukung kemerdekaan Skotlandia akan bertambah dan bisa-bisa wilayah itu benar-benar lepas dari Inggris Raya.
Menurut Szymanski, mempertahankan tim sepak bola masing-masing Home Nations adalah salah-satu cara yang tepat untuk mengekspresikan kebanggaan masing-masing suku bangsa di Inggris Raya.
Kalau satu-satunya cara untuk mengekspresikan kebanggaan itu juga ditindas, ucap Szymanski, maka akan sangat banyak yang mendukung kemerdekaan Skotlandia.
“Saya tidak ragu tentang hal itu,” tandas Szymanski.
Presiden FIFA Gianni Infantino pun telah meyakinkan asosiasi sepak bola Home Nations (khususnya Wales, Skotlandia dan Irlandia Utara) bahwa tampilnya tim Inggris Raya di cabang sepak bola putra Olimpiade tidak akan mengingkari dan menghapus ratusan tahun sejarah yang dibuat oleh Home Nations.
Maksudnya, Gianni mau mengatakan bahwa meskipun bisa saja kelak keikutsertaan Tim Inggris Raya di cabang sepak bola Olimpiade menjadi rutinitas, itu tak mengubah posisi Home Nations di ajang Piala Dunia (FIFA World Cup).
“Keterlibatan Inggris Raya di cabang sepak bola putra di Olimpiade tak akan membahayakan ratusan tahun sejarah yang sudah ditoreh oleh empat Home Nations,” kata Gianni seperti dikutip www.en.as.com.(sunarko)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Timnas-Inggris-Pildun-2022.jpg)