Berita Gianyar

Peringati Saharsa Warsa Ditulisnya Prasasti Baturan, 1.000 Orang Tarikan Rejang Sutri di Gianyar

memperingati 1.000 tahun atau saharsa warsa ditulisnya Prasasti Baturan, pementasan tarian sakral Rejang Sutri

TRIBUN BALI/ Wayan Eri Gunarta
1.000 orang tarikan Rejang Sutri di Desa Batuan, Sukawati, Gianyar, Bali, Minggu 18 Desember 2022 - Peringati Saharsa Warsa Ditulisnya Prasasti Baturan, 1.000 Orang Tarikan Rejang Sutri di Gianyar 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dalam rangka memperingati 1.000 tahun atau saharsa warsa ditulisnya Prasasti Baturan, krama Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali merayakannya dengan pementasan tarian sakral Rejang Sutri, Minggu 18 Desember 2022.

Tak tanggung-tanggung, pementasan yang berlangsung di jaba sisi kelod Pura Desa dan Puseh Desa Adat Batuan itu ditarikan oleh 1.000 orang penari.

Para penari dari kalangan pemudi dan PKK se-desa Batuan mengenakan setelan putih kuning.

Bendesa Adat Batuan, I Nyoman Megawan didampingi Pangliman I Wayan Sudha menjelaskan, Rejang Sutri merupakan tarian sakral yang berfungsi sebagai penolak bala.

Baca juga: Tampik Melecehkan Tari Rejang, Bendesa Pinggan Kintamani Bangli Sebut Hanya Sebatas Hiburan

Biasanya, tarian ini dipentaskan pada malam-malam keramat, seperti Kajeng Kliwon Enyitan Sasih Kalima sampai Ngembak Gni, sehari setelah hari suci Nyepi atau sekitar bulan November sampai bulan Maret tahun berikutnya.

Pementasan ini berlangsung setiap malam di wantilan Pura Desa lan Puseh Desa Adat Batuan. Tradisi yang diwarisi secara turun temurun ini pantang ditiadakan.

Termasuk dalam situasi pandemi Covid-19, pementasan tetap digelar dengan menaati protokol kesehatan.

"Rejang Sutri diyakini sebagai penetralisir sasih gering yang ditandai dengan mewabahnya berbagai macam penyakit. Cikal bakal dipentaskannya Rejang Sutri diperkirakan bermula pada abad ke-17 sekira tahun 1658," ujarnya.

Rejang Sutri sendiri tak bisa dilepaskan dari sejarah Desa Batuan, terutama pada masa Ida Sri Aji Maha Sirikan menduduki takhta Kerajaan Timbul yang diberikan oleh Raja Mengwi.

Sebelum menduduki takhta, beliau terlebih dahulu meninjau wilayah.

Dalam peninjauan tersebut terdengar masih ada pengikut Balian Batur (dukun jahat) yang bernama Gede Mecaling tinggal di Tegalinggah Banjar Jungut yang berada di wilayah Batuan.

Gede Mecaling terkenal suka mengusik ketenteraman masyarakat, sehingga bermaksud diusir. Sri Aji Maha Sirikan kemudian memerintahkan I Dewa Babi untuk mengusir Gede Mecaling.

Singkat cerita, terjadi adu kesaktian antara Dewa Babi dengan Gede Mecaling.

Dengan perjanjian, barang siapa yang kalah harus bersedia diusir dari daerah Batuan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved