Berita Bali

Kuliner Mujair Nyat-nyat yang Diusulkan Disparbud Bangli Belum Bisa Jadi Warisan Budaya Tak Benda

Kuliner Mujair Nyat-nyat yang diusulkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangli, Bali, belum bisa jadi warisan budaya tak benda.

Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Ilustrasi : set menu mujair nyat-nyat kuah di RM. Pak Bagong - Kuliner Mujair Nyat-nyat yang diusulkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bangli, Bali, belum bisa jadi warisan budaya tak benda. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bangli berupaya mengusulkan sejumlah kegiatan menjadi warisan budaya tak benda ( WBTB).

Dari tiga jenis kegiatan, baik berupa kerajinan tradisional hingga adat istiadat/perayaan yang telah diusulkan, ada satu kerajinan tradisional yang belum bisa menjadi WBTB.

Kerajinan tradisional tersebut berupa kuliner Mujair Nyat-nyat.

Yang mana sempat diproyeksikan untuk diusulkan menjadi WBTB pada tahun 2022. 

Kabid Adat dan Tradisi Disparbud Bangli, I Made Widana mengatakan, pertimbangan pengusulan Mujair Nyat-nyat sebagai WBTB karena Mujair Nyat-nyat merupakan kuliner yang sudah populer layaknya Loloh Cemcem.

Kendati demikian, usulan mujair nyat-nyat belum dapat dilakukan karena tidak memenuhi kriteria.

"Untuk jair nyat-nyat belum memenuhi kriteria sebagai warisan budaya karena keberdaanya belum mencapai 50 tahun," sebutnya, Selasa 17 Januari 2023.

Kata Made Widana, saat ini pihak Disparbud masih berfokus untuk menyelesaikan proses WBTB pada dua jenis kegiatan.

Yakni kerajinan tradisional berupa Loloh Cemcem dan adat istiadat/perayaan berupaya Nganten Massal.

Baca juga: Tahun 2021 Ini Tak Ada Warisan Budaya di Denpasar yang Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Diakui Loloh Cemcem dan Nganten Massal sejatinya sudah diusulkan sejak tahun 2019, dan sudah dilakukan penilaian.

Kendati demikian ada beberapa hal yang masih perlu dilakukan koreksi. 

Untuk nganten massal, pihaknya diminta melengkapi dokumen pendukung primer seperti catatan kolinial, manuskrip, cerita tutur, wawancara dengan maestro/tokoh adat.

Kemudian detail tahapan rangkaian upacara, peralatan yang dipakai saat upacara, upaya pelestarian dilengkapi dengan program aksi nyata.

"Begitupun dengan Loloh Cemcem, imbuhnya. Perlu diperjelas mengenai dokumen-dokumen pendukung tersebut, serta nilai dan maknanya belum terlihat," ungkapnya.

Made Widana menambahkan, untuk proses perbaikan dan penambahan kelengkapan usulan tersebut, diperkirakan butuh waktu selama sebulan.

Pihaknya menargetkan Loloh Cemcem dan Nganten Massal bisa ditetapkan sebagai WBTB tahun ini. (mer)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved