Berita Denpasar
Warga Bali Buat Usaha Mi Instan Babi, Gunakan Bumbu Basa Genep, Dijual Hingga Papua
Dua orang pemuda asal Bali, Anak Agung Putu Wisnawa (32) bersama I Dewa Gede Oka Purnama Cahyadi (32) membuat sebuah usaha mie instan babi.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dua orang pemuda asal Bali, Anak Agung Putu Wisnawa (32) bersama I Dewa Gede Oka Purnama Cahyadi (32) membuat sebuah usaha mie instan babi.
Di mana mie instan babi ini diberi nama BawiMi yang produksinya berada di Jalan Sedap Malam Nomor 108a Denpasar.
Uniknya, meskipun dibuat dalam bentuk kemasan, bumbu mie ini menggunakan basa genep yang merupakan bumbu khas Bali dengan 18 jenis rempah.
Baca juga: Kuliner Bali, Kisah Warung Babi Guling di Setra Gandamayu, Nimati Sensasi Makan di Depan Kuburan
Anak Agung Putu Wisnawa menceritakan, BawiMi ini mulai dipasarkan sejak tiga minggu lalu.
Di mana pembuatan usaha ini bermula dari pengalaman mereka bekerja di sebuah tempat produksi bumbu jadi termasuk bumbu khas Bali.
Dari sana mereka memetakan jumlah peminat mie rasa babi dan ternyata jumlahnya pun cukup banyak.
Baca juga: Resep Mi Ayam Kecap, Sajian Sederhana Ala Rumahan yang Gampang Dibuat, Intip Resepnya
“Saya punya kemampuan dalam manajemen, sementara teman saya Dewa punya kemampuan membuat bumbu, maka akhirnya kami membangun usaha ini,” kata Anak Agung Putu Wisnawa saat ditemui Senin, 13 Februari 2023 siang.
Desember 2022 lalu, mereka pun mulai melakukan uji coba, membuat racikan bumbu untuk mie ini, termasuk mencari izin produksi, dan juga hak paten produk.
Setelah semuanya rampung, dengan karyawan sebanyak 7 orang, mereka memulai usaha ini.
Baca juga: BI Bali Dorong Kegiatan Usaha Penukaran Valuta Asing Bukan Bank
Untuk mie sendiri, pihaknya bekerja sama dengan produsen mie terbaik di Bali.
Sementara untuk pengolahan lanjutan termasuk meracik bumbu dikerjakan secara manual.
“Di dalam bumbu, kami juga isi daging babi yang digiling, kemudian dikeringkan, diblender. Di dalam bumbu juga ada toping babi. Termasuk bubuk cabai kami juga buat sendiri dengan blender dan kemudian dikeringkan,” tuturnya.
BawiMi produksinya ini bisa tahan rata-rata hingga 180 hari tergantung suhu kemasan.
Baca juga: Masuk Daftar Tempat Gadai Ilegal, Satu Pemilik Usaha di Bali: Jangan Buat Kami Sia-sia Urus Izin
Satu kemasan berisi sebanyak 102 gram mie dan diklaim lebih banyak dibandingkan mie instan yang biasa ada di pasaran.
Satu kemasan dijual seharga Rp18.900 belum termasuk ongkos kirim.
Selama tiga minggu produksi berjalan, pihaknya sudah merambah pasar luar Bali seperti Jakarta, Balikpapan, Surabaya, Lombok, bahkan sampai Papua.
“Untuk pasar paling banyak itu, adalah di daerah yang peminat daging babinya tinggi namun babi sulit ditemukan. Itu di luar Bali yang banyak. Kalau di luar Bali tidak begitu lumayan,” paparnya.
Baca juga: LPEI Ajak Pelaku Usaha Perempuan Jadi Eksportir yang Berdaya Saing Internasional
Mie babi yang diproduksi ada dua jenis yakni goreng dan kuah, dengan varian rasa baru original.
Namun ke depannya mereka berencana membuat mie versi spesial seperti kuah balung babi, urutan suna cekuh, maupun urutan babi kecap.
“Kami sudah rencanakan 4 bulan lagi buat yang versi spesial ini. Tapi tidak sekaligus kami keluarkan. Satu per satu dulu,” jelasnya.
Baca juga: Pusaka Sakti Badung, Pemberdayaan Usaha Krama BUM Desa sebagai Strategi Kerja Kolaboratif
Selama tiga minggu produksi, usaha ini mampu memproduksi 100 hingga 200 dus, dimana satu dus berisi 24 kemasan.
Dalam sehari rata-rata mereka mampu berjualan hingga 4 dus.
Untuk pemasaran, selain offline, juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok.
Selain itu, juga telah bekerja sama dengan beberapa pasar oleh-oleh di Bali.
“Yang paling banyak kami dapat jualan dari Instagram. Saat ini kami masih mengejar ekspedisi biar punya ekspedisi sendiri sehingga bisa lebih murah,” katanya.
Sementara untuk penamaan Bawimi (*)
Berita lainnya di Berita Denpasar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.