Berita Denpasar

30 Karya Maestro Nyoman Gunarsa Dipamerkan di Sanur, Pameran Pertama di Bali Setelah Berpulang

Lukisan maestro almarhum Nyoman Gunarsa dipamerkan di Griya Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar.

Tribun Bali/Putu Supartika
Salah satu lukisan berjudul Mr. Jokowi in Traditional Market yang dipamerkan di Griya Santrian 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Lukisan maestro almarhum Nyoman Gunarsa dipamerkan di Griya Santrian Art Gallery, Sanur, Denpasar.

Pameran ini berlangsung selama sebulan lebih dimulai pada Jumat, 24 Februari hingga 31 Maret 2023 mendatang.

Pameran bertajuk In Honor Of Nyoman Gunarsa (Mengenang Nyoman Gunarsa) rencananya akan dibuka langsung oleh Staf Khusus Presiden RI, AAGN Ari Dwipayana.

Baca juga: Lansia Asal Surabaya Ditemukan Meninggal Dunia di Denpasar, Polisi : Ditemukan Obat-obatan di TKP

Sekitar 30-an karya Nyoman Gunarsa ini akan dipamerkan untuk mengenang dedikasi sang maestro di dunia seni khususnya seni lukis.

Selain itu, juga untuk mengobati kerinduan pecinta dan penikmat seni lukis di Nusantara.

Menurut perwakilan dari Museum Gunarsa, Nengah Arianta mengatakan, sejak Nyoman Gunarsa berpulang, ini merupakan pameran kali pertama yang diadakan di Bali.

Baca juga: Kerja Keras Gubernur Diapresiasi Wali Kota Bersama Masyarakat Denpasar Dukung Wayan Koster 2 Periode

“Pameran ini memiliki arti penting, tidak sekadar menampilkan kembali karya Nyoman Gunarsa tapi jauh dari itu untuk mengingatkan warga Bali serta masyarakat pecinta seni di Nusantara, kalau sosok Nyoman Gunarsa hidupnya total didedikasikan untuk seni dan budaya,” katanya dalam konferensi pers pada Kamis, 23 Februari 2023.   

“Nyoman Gunarsa terus mendedikasikan dirinya untuk berbagai hal dalam seni dan budaya,” imbuhnya.

Nyoman Gunarsa merupakan maestro seni lukis berasal dari Dusun Banda, Desa Takmung,Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali.

Baca juga: Bali Tuan Rumah Piala Dunia U20, Kapolda Bali & Kapolresta Denpasar Cek Proyek Renovasi Gedung

Gunarsa lahir pada 15 April 1944, dan  mengasah bakat seni  melukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta.

Saat bergabung dengan Sanggar Dewata Indonesia, beberapa kali memberikan penghargaan Lempad Prize kepada seniman dan budayawan Indonesia.

Perjalanan hidup dan proses berkesenian Nyoman Gunarsa yang terlahir dengan talenta seni dijalaninya cukup panjang.

Baca juga: Lakukan Coklit Data Pemilih, 2 Personel Pantarlih di Denpasar Digigit Anjing

Gunarsa yang dijuluki “pelukis bertangan emas” melukis dinamika dan ekspresi penari Bali dalam seni lukisannya.

Nyoman Gunarsa pemilik Museum Nyoman Gunarsa yang berdiri di Dusun Banda, Desa Takmung, Banjarangkan, Klungkung ini merupakan legenda seni rupa di Bali.

Tokoh penting pendiri Sanggar Dewata Indonesia ini juga dikenal memiliki kecerdasan sosial.

Itu terlihat dari pergaulan Nyoman Gunarsa dengan banyak kalangan hingga pejabat tinggi di negeri ini.

Misalkan saja, presiden Ir. Soekarno pun berkesempatan memberikan tanda tangan pada sebuah karya sketsa Nyoman Gunarsa.

“Presiden Joko Widodo juga mengoleksi lukisan Nyoman Gunarsa yang bercerita Jokowi Minum Jamu. Dan beliau bersama istri diundang ke istana untuk menyerahkan lukisan tersebut,” katanya.

Lukisan Jokowi Minum Jamu ini pun dipajang di ruang rapat kepresidenan di Istana Negara.

Tidak berhenti sampai disitu, Nyoman Gunarsa juga mengukir sejarah sebagai pejuang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)  karya seni lukis di Indonesia.

“Sosok Nyoman Gunarsa adalah pejuang sekaligus pahlawan dalam seni lukis modern. Memiliki dedikasi tinggi untuk kemajuan peradaban Bali yang diterima dunia internasional,” katanya.

Istri Nyoman Gunarsa, Indrawati mengatakan, suaminya merupakan pribadi yang sangat dicintai banyak orang dan menjadi guru bagi semua kalangan.

“Pak Nyoman juga memiliki banyak gagasan cemerlang dan mendedikasikan dirinya untuk kemajuan kebudayaan secara luas. Hingga kini kami sangat kehilangan sosok seperti beliau,” kata Indrawati.

Ia juga bercerita jika Nyoman Gunarsa adalah pengagum dari Kumbakarna dan terlihat jiwanya dalam lukisan Kumbakarna.

“Pengagum Kumbakarna karena membela negara yang mendapat serangan dari luar, bukan untuk Rahwana, tapi untuk rakyat,” katanya.

Sejak awal, gaya lukisan Nyoman Gunarsa cenderung ekspresionis kemudian berkembang dari tema keseharian masyarakat Bali tradisional, abstraksi sesaji, deformasi aringgit (wayang), dan gerak penari.

Nyoman Gunarsa meramu gaya tersebut dengan imajinasi yang diasah dari konsistensinya mendalami kesenian Bali sehingga melahirkan karya dengan “gaya Gunarsa” yang sangat terkenal.

Lima tahun silam Nyoman Gunarsa meninggal dunia, tepatnya pada Minggu, 10 September 2017.

Ia bukan hanya meninggalkan karya berupa sketsa, drawing, maupun lukisan yang dapat mengisahkan ribuan jejak berkeseniannya, tetapi juga sebuah museum seni dengan ribuan koleksi yang sangat kaya khazanah seni budaya adiluhung.

Sepanjang karier sebagai perupa, Nyoman Gunarsa memiliki kepedulian tinggi terhadap kelestarian dan pengembangan seni serta memfasilitasi berbagai kegiatan budaya.

Pemilik Griya Santrian Gallery Ida Bagus Gede Sidartha Putra mengatakan pameran ini juga merupakan persembahan dan penghormatan bagi jejak kekaryaan seniman besar Nyoman Gunarsa.

“Beliau tumbuh di lingkungan yang berakar budaya Bali dan melanglang buana hingga mencapai puncak ketenaran hingga menjadi salah satu maestro yang kita miliki,” katanya. (*)

 

 

Berita lainnya di Berita Denpasar

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved