Berita Bali
Pariwisata Bali Dijual Murah, ASITA dan Guru Besar Unud Minta Bule Nakal Ditindak
HIPMI Bali mendukung pencabutan Visa on Arrival (VoA) bagi warga Rusia dan Ukraina.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kabar pariwisata Bali yang dijual murah pasca sepi dihantam pandemi Covid-19, sehingga banyak wisatawan mancanegara (wisman) berbuat onar di Bali ditanggapi Ketua Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) Bali, Putu Winastra.
Winastra mengatakan, harus melihat fakta dan data secara jelas terkait pariwisata Bali dijual murah.
“Kita harus bedakan isu pariwisata dijual murah dan wisman buat onar. Ini yang harus dibedakan dua hal yang tidak ada hubungan satu sama lain. Apakah yakin kalau pariwisata dibuat mahal, terus tidak ada wisman buat onar? Kan belum tentu juga. Nah kalau pariwisata ini jangan dijual murah, saya sependapat,” katanya, Sabtu 25 Maret 2023.
Dia mengatakan, yang harus dilakukan agar pariwisata tidak dijual murah adalah segala komponen pariwisata dan fasilitas pariwisata harus ditatakelola dengan baik.
Baca juga: Banyak WNA Dideportasi, PHRI Badung Dukung Demiki Pariwisata Kedepan
Infrastruktur harus disiapkan sebaik mungkin sehingga mempunyai kualitas internasional dan SDM-nya yang ada juga harus bagus.
Ketika berbicara pariwisata tak terlepas juga komponen, instrumen, yang ada di pariwisata itu sendiri.
Infrastruktur, objek-objeknya, destinasinya ini harus dikelola dengan baik dan yang bisa mengelola itu ada pemerintah di sana.
Ketika berbicara objek, ada pengelolanya di sana, baik swasta maupun pemerintah.
Ini yang harus bersinergi membuat sebuah kebijakan sehingga harus dilakukan secara bersama-sama dengan baik.
Aturannya harus jelas sehingga ada SOP satu sama lain.
“Ketika berbicara wisman berbuat onar, ini lebih ke hal law enforcement. Itu aturan hukum. Kalau aturan hukum lemah, orang akan berbuat semena-mena. Law enforcement harus tegas, tak bisa ditolerir. Ini yang harus dilakukan. Yang melakukan law enforcement adalah institusi terkait, seperti Imigrasi, polisi, Bea Cukai, dan Satpol PP serta semua harus melakukan sesuai dengan tupoksinya,” imbuhnya.
Range harga akomodasi di Bali untuk wisatawan pun beragam.
Jika berbicara hotel bintang lima maka biayanya akan mahal.
Namun jika homestay tentu harganya lebih terjangkau.
“Bali ini didesain untuk segala macam level wisatawan, baik yang bawah sampai kelas atas. Ada pasar dan ruangnya, misalkan kalau bicara murah, dari sisi apanya? Faktanya hotel yang Rp 36 juta semalam juga ada yang di sana. Jadi kita tidak boleh menggeneralisir. Tetapi yang harus dilakukan adalah bagaimana aturan hukum dijalankan dengan baik begitu,” paparnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.