Human Interest

Mandikan dan Kubur 500 Jenazah Sejak Tahun 2018, Ini Kisah Relawan Pengurus Jenazah Telantar di Bali

Kain kafan, jarik dan peti mati sudah menjadi sahabat Siti Alifah seorang relawan pengurusan jenazah telantar di Bali.

Istimewa
Siti Alifah, relawan pengurus jenazah telantar di Bali. 

Tak hanya itu, menemukan belatung di jenazah menurutnya merupakan hal yang sudah biasa.

Untuk jenazah yang tidak utuh, biasanya tidak dimandikan karena khawatir nantinya akan ada bagian tubuh yang terputus lagi.

Hal mistis pun pernah Siti dan teman-temannya temui saat mengurusi jenazah


“Kalau teman-teman yang baru pertama biasanya mereka tidak bisa tidur. Namanya jenazah kan berasal dari berbagai macam latar. Kita tak boleh menceritakan aib dari jenazah. Kadang pernah kain kafan terbang, ada juga jenazah yang seolah-olah matanya melihat kita terus padahal kondisi sudah meninggal,” terangnya. 


Adapun berbagai pengeluaran yang harus dibeli Siti saat menjadi pengurus jenazah yakni seperti membeli kain kafan, biaya transportasi ambulans dan pemakaman jadi kurang lebih biaya yang keluarkan Rp3,5 juta untuk 1 jenazah.

Biasanya 1 jenazah membutuhkan 3-4 kain jarik. Saat memandikan jenazah Siti dan teman-temannya juga menggunakan Apron, masker hingga APD.

Tergantung riwayat dari penyakit pasien. APD itu ia beli sendiri dan saat Covid-19 pun ia banyak menangani jenazah dan dimandikan seperti jenazah biasa.

Lokasi mandikan jenazah ini kadang ia lakukan di rumah sakit dan pemakaman. 


“Kalau meninggalnya di rumah sakit yang ada tempat mandikan jenazah, kita akan mandikan di sana tapi kalau di rumah sakitnya tidak ada tempat pemandian kita akan mandikan di pemakaman dan pemakaman kami sering di Kampung Jawa, Denpasar,” tutupnya. (*) 

 

 

Berita lainnya di Human Interest Story

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved