Berita Tabanan

Ini Asal Usul Nama Tabanan dan Singasana Yang Akan Jadi Nama Ibu Kota

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tabanan menyetujui nama ibu kota Tabanan, menjadi Singasana.

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Fenty Lilian Ariani
I Made Prasetya
Suasana areal depan Taman Kota Tabanan di sore hari. 

Kata singhàsana berarti singgasana, tempat duduk raja dalam tandu (pavilyun, kereta perang) (Zoetmulder dan S.O Robson, 1995: 1097).

Kata taban dalam bahasa Bali yang berarti balai-balai memiliki padanan arti dengan kata singhàsana dalam bahasa Jawa Kuno.

Sebagaimana diketahui bahwa bahasa Jawa Kuno yang di Bali lazim dikenal dengan sebutan bahasa Kawi, memiliki kekuatan mistik primordial dalam segala macam ritual dan praktik religius masyarakat Bali, termasuk masyarakat Tabanan.

Penggunaan bahasa Jawa Kuna/Kawi dalam sebuah ritual verbal adalah untuk mengukuhkan makna tradisional dan menjamin adanya kohesi kultural.

Maka dari itu, bahasa Jawa Kuno/Kawi banyak diserap ke dalam bahasa Bali.

Seiring dengan itu, kata singhàsana dalam bahasa Jawa Kuno diserap ke dalam bahasa Bali menjadi kata singasana yang juga berarti singgasana (Tim Penyusun Kamus Bali- Indonesia, 2017:663).

Sumber-sumber referensi tradisional yang masih eksis hingga saat ini, antara lain

Babad Tabanan, Pamancangah Tabanan, Prasasti Tabanan, Babad Arya Kenceng, Babad Ratu Tabanan, Babad Arya Tabanan menjelaskan bahwa Siràrya Ngurah Tabanan mendapat petunjuk gaib agar membangun puri di sebuah tempat yang ditandai dengan kepulan asap yang berasal dari sebuah sumur sakti.

Tempat itu berada di wilayah tempat tinggal (pasraman) seorang rohaniwan sakti bernama Ki Dukuh Sakti.

Namun, tempat tersebut dalam keadaan bertebing-tebing. Karena itu, tempat tersebut dilandaikan (dalam bahasa Bali: katabanang) terlebih dulu agar mudah dibangun puri.

Setelah tempat itu landai, rata, mendatar (dalam bahasa Bali: naban), maka di tempat itulah kemudian Siràrya Ngurah Tabanan membangun puri yang diberi nama Puri Agung Tabanan, dengan Ibu Kota Kerajaan bernama Singasana.

Atas jasa pembangunan puri tersebut, kemudian Siràrya Ngurah Tabanan dijuluki Bhatara Wangun Graha (Tim Penyusun Sejarah Tabanan, 2010:144).

Siràya Ngurah Tabanan mempunyai seorang putra dari permaisuri pertama bernama Siràrya Ngurah Langwang. Siràrya Ngurah Tabanan menyerahkan tahta pemerintahan di Puri Agung Tabanan kepada Siràrya Ngurah Langwang.

Setelah dinobatkan sebagai Raja Puri Agung Tabanan, Siràrya Ngurah Langwang bergelar Prabu Singasana.

Konon pada masa pemerintahan Prabu Singasana, keadaan kerajaan Tabanan sangat damai, tenteram, dan rakyat hidup dengan makmur.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved