Berita Bali
Lokasi Geografis Dinilai Jadi Kendala Bangun LRT di Bali
Pembangunan Lintas Rel Terpadu masih dalam tahap Feasibility Study, LRT pun tidak serta-merta bisa dibangun di Bali
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pembangunan Lintas Rel Terpadu atau Light Rail Transit (LRT) di Bali hingga kini dari update terakhir masih dalam tahap Feasibility Study atau studi kelayakan.
Strategi pengenalan Lintas Rel Terpadu (LRT) di Bali ini pun diharapkan tak melompat-lompat.
Terlebih LRT telah memiliki konsep, mulai dari rute-rute yang akan dilalui, hingga pada anggaran yang akan dikeluarkan.
Harus ada pijakan-pijakan awal untuk sampai kepada pijakan berikutnya.
Baca juga: Cara Pesan Tiket Kereta Api Secara Online, Mudah dan Anti Ribet, Satu Klik Langsung Berangkat
Apalagi jika melihat penggunaan transportasi umum seperti bus di seputar Bali masih kurang diserap.
Demikian yang disampaikan Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali, I Made Rai Ridartha.
“Contoh, untuk sampai pada LRT, transportasi layanan angkutan darat berbasis busnya harus kuat dulu sebelumnya. Jika bus ini dapat menyerap penumpang, yang kemudian secara jumlah terus bertambah dan (masyarakat) tidak lagi mampu dilayani secara massal dengan menggunakan bus, baru melompat ke penggunaan rel,” katanya, Kamis 18 Mei 2023.
Rai Ridartha juga menambahkan, LRT pun tidak serta-merta bisa dibangun di Bali karena bisa saja terkendala oleh lokasi geografis dan sebagainya.
Khususnya, pada wilayah-wilayah pada bangunan, dikatakannya tentu akan sulit sekali membangun jaringan berbasis rel untuk kereta api, lantaran akan banyak mengganggu bangunan yang sudah berdiri.
Ujungnya, trek yang diinginkan akan sulit direalisasikan.
“Kereta api ini treknya biasanya lurus-lurus saja, untuk menghemat investasi dan waktu tempuh. Seandainya kita membentangkan rel ini lurus, tentu akan banyak kendala pada daerah yang sudah terbangun. Tetapi tentu kita tidak boleh pesimis, karena apa saja bisa dilakukan sepanjang dicari solusinya,” sambungnya.
Pihaknya pun menyoroti operasional Trans Metro Dewata (TMD) di Bali yang saat ini dinilainya mesti diperkuat dengan melengkapi rute yang belum terisi.
Disebutnya saat ini TMD memiliki 5 koridor, sedangkan koridor yang dibutuhkan lebih dari itu.
Jika seluruh koridor sudah terbangun, maka konektivitasnya bisa dijamin.
“Artinya, orang yang berangkat dari rumahnya untuk bisa sampai ke tujuan akhirnya tersambungkan walaupun tidak ada direct, tapi bisa berpindah. Kalau rute yang tidak tersambungkan, ini penumpangnya tidak akan mau naik itu. Hal ini yang harus diperkuat,” paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Lokasi-Geografis-Dinilai-Jadi-Kendala-Bangun-LRT-di-Bali.jpg)