Berita Karangasem

Tetesan Darah Mageret Pandan, Ketulusan Ngayah dan Melebur Dendam di Karangasem Bali

Orang tua, pemuda hingga anak-anak bersiap dengan ritual perang yang lebih populer dengan sebutan Mageret Pandan ini.

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Tribun Bali/Saiful Rohim
Krama Desa Adat Tenganan Pegeringsingan beratrung geret pandan. Tradisi ini digelar untuk persembahan kepada Dewa Indra sebagai manifestasi dewa perang. 

TRIBUN-BALI.COM - Suara selonding mengalun. Wisatawan terus berdatangan ke Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, Minggu (11/6).

Sementara warga lokal sudah siap dengan pakaian adat kebanggaan, udeng dan kamen gringsing.

Krama Tenganan Pagringsingan ketog semprong ngayah untuk melestarikan tradisi makare-kare.

Orang tua, pemuda hingga anak-anak bersiap dengan ritual perang yang lebih populer dengan sebutan Mageret Pandan ini.

Geret Pandan adalah tradisi sakral di Desa Tenganan Pegringsingan. Acara dimulai setelah selonding dimainkan.

Baca juga: Otorita IKN Pakai Ilmu Pariwisata Bali, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Lokal

Baca juga: Tradisi Mekare-kare atau Gered Pandan di Karangasem Bali, Bentuk Penghormatan ke Dewa Indra

Ribuan orang memadati halaman Desa Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem.
Ribuan orang memadati halaman Desa Tenganan Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem. (ist)

Satu per satu krama maju ke medan laga membawa pandan berduri dan ende sebagai perisai.

Kelian Tenganan Pegringsingan, I Putu Suarjana mengatakan, Geret Pandan adalah rangkaian kegiatan dalam upacara Usaba Sambah yang digelar setiap satu tahun sekali. Inilah yadnya paling besar yang dihaturkan krama.

Geret Pandan sebentuk penghormatan untuk Dewan Indra, dewanya peperangan, dewanya kemakmuran, juga dewanya kesempurnaan yang diusung krama Tenganan Pegringsingan. Darah yang menetes dari punggung peserta Geret Pandan adalah pengorbanan yang tulus.

"Geret pandan dipersiapkan oleh pemuda Tenganan Pegringsingan, diawali dengan upacara setelah itu mempersiapkan kelengkapannya. Geret Pandan adalah bentuk penghormatan untuk Dewa Indra yakni dewa perang," tutur Suarjana.

Setelah Mageret Pandan, krama melanjutkan dengan tradisi magibung. Meski sebelumnya mereka berhadapan satu sama lain di medan tempur, namun tak ada dendam yang dibawa-bawa. Semua tuntas di batas ritual saat itu juga.

"Acara megibung bermakna sportivitas. Krama perang pandan tak boleh membawa dendam. Sifat dendam serta kebencian tak boleh timbul setelah Geret Pandan. Setelah itu dilanjutkan dengan tradisi Ayunan Jantra yang pesertanya dari kaum perempuan di Tenganan Pegringsingan," jelasnya.

Putu Krisna, peserta Geret Pandan mengatakan, ia ikut agar bisa ngayah dalam tradisi yang diwariskan oleh para leluhurnya ini. Bahkan ia sudah mengikuti tradisi ini sejak masih kecil.

"Saya sebagai krama Tenganan Pegringsingan setiap tahun mengikuti Geret Pandan. Ini bentuk rasa ngayah saya. Dari kecil saya ngayah dengan Geret Pandan," demikian kata Putu Krisna. (saiful rohim)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Medium

Large

Larger

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved