Serba Serbi
Tradisi Mekare-kare atau Gered Pandan di Karangasem Bali, Bentuk Penghormatan ke Dewa Indra
Tradisi Mekare-kare atau Gered Pandan di Karangasem Bali, bentuk penghormatan ke Dewa Indra.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Putu Kartika Viktriani
Dewa perang, kemakmuran, dan dewa kesempurnaan yang dianut Adat Tenganan Pegringsingan.
Darah yang keluar dari punggung peserta gered pandan merupakan bentuk pengorbanan yang tulus oleh masyarakat sekitar.
Gered pandan dipersiapkan oleh truna - truni Tenganan Pegringsingan.
Diawali dengan upacara.
Setelah itu mempersiapkan prasarananya.
Seperti duri pandan.
"Gered pandan bentuk penghormatan ke Dewa Indra yakni dewa perang. Krama lelaki mengikutinya. Anak -anak, dewasa, serta orang tua," tambah Suarjana, sapaannya.
Seperti diketahui, setelah dilaksanakan gered pandan, beberapa krama Tenganan Pegringsingan mengelar megibung.
Prosesi megibung digelar agar tidak ada rasa dendam dan kebenci antara truna setelah mengikuti gered pandan.
Tujuannya mempererat tali kebersamaan, persaudaraan antar sesama masyarakat.
Acara megibung adalah simbol sportifitas.
Truna yang ikuti perang pandan tak dibolehkan dendam.
Sifat dendam serta kebencian tak boleh timbul dibenak masyarakat setelah mengelar gered pandan.
Setelah itu, dilaksanakan tradisi ayunan jantra yang pesertanya dari kaum perempuan di Desa Adat Tenganan Pegringsingan.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.