Berita Gianyar
Petani Subak Banda Blahbatuh Harapkan Jalan Tani
Para petani di Subak Banda, Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar, Bali berharap mendapatkan program jalan tani dari pemerintah.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Para petani di Subak Banda, Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar, Bali berharap mendapatkan program jalan tani dari pemerintah.
Sebab jalan yang ada saat ini, masih berupa pematang, yang selalu terkikis secara alami. Hal ini pun membuat petani kesulitan, baik dalam membawa pupuk, hasil panen dan sebagainya.
Kondisi demikian terpantau, Senin 12 Juni 2023. Dimana saat itu, jangankan membawa hasil pertanian.
Masyarakat yang berjalan dengan tangan kosong saja, hampir jatuh karena jalanan kecil dan licin, karena masih berupa tanah.
"Beberapa titik sudah hancur, karena terkikis air saluran irigasi dan hujan. Sangat parah bila musim hujan tiba, sepeda motor tak bisa lewat," ujar seorang petani.
Informasinya, pemerintah telah memberikan perhatian kepada jalan subak tersebut.
Dengan memberikan bantuan padat karya tunai melalui dana desa malalui perbaikan saluran irigasi.
Namun panjang jalan dengan bantuan yang diberikan belum bisa maksimal.
Terpisah, Kepala Seksi Pengairan pada Dinas Pertanian Gianyar, Ni Kadek Yulia mengatakan, pihaknya telah mengusulkan perbaikan jalan usaha tani setiap tahun ke Kementerian Pertanian.
Baca juga: PROFIL Rahmania Astrini yang Ditunjuk jadi Special Guest pada Konser Coldplay November Mendatang
Namun, kata dia, Distan Gianyar tak pernah mendapatkan anggaran dari Kementerian.
Di tahun 2022 lalu, pihaknya mengajukan 20 proposal.
Terkait bagaimana nasib proposal itu, kata dia, saat ini Kementerian masih memilah ribuan proposal yang masuk dari berbagai daerah.
Sementara, pada tahun 2021, pihaknya mengajukan 15 proposal perbaikan.
Dan, saat itu Gianyar tak dapat anggaran.
"Kami di Dinas Pertanian selalu mengajukan proposal, khusus untuk JUT (Jalan Usaha Tani), sejak tahun 2021. Tapi kita memang tidak kebagian (anggaran). Proposal kita sudah menumpuk di sana sejak 2021," ungkap Yulia.
Sulitnya mendapat anggaran dari Kementerian, kata Yulia, dikarenakan program ini harus melalui seleksi ketat.
Yakni, lebarnya tidak boleh lebih dari 1,5 meter, agar tidak bisa dilewati kendaraan roda empat.
"Nah, kalau lebarnya lebih dari 1,5 meter, nanti akan terjadi alih fungsi lahan, bukan lahan pertanian lagi namun berubah jadi akomodasi perhotelan," ujarnya.
Karena itu, pihaknya pun berharap masyarakat tani memahami kondisi ini. Ia sendiri tak menampik tak sedikit jalan tani yang saat ini kondisinya memperihatinkan. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.