Berita Karangasem

Gelombang Tinggi Sebabkan Nelayan Karangasem Tidak Bisa Melaut Sejak Sepekan Lalu

Ahmad Jahadi, asal Br. Dinas Ujung Pesisir, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, yang merupakan nelayan di Ujung Pesisi itu hampir sepekan tak melaut.

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Saiful Rohim/Tribun Bali
 Suasana nelayan di Ujung Pesisi, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, siang hari. Jukung nelayan terlihat berjejer di Pesisir Pantai Ujung Pesisi. 

TRIBUN-BALI.COM - Sebagian nelayan di Karangasem, tak melaut sejak seminggu dikarenakan cuaca tidak bersahabat.

Gelombang di Perairan Karangasem lumayan  tinggi, sedangkan angin bertiup kencang. Kondisi ini mengakibatkan nelayan takut serta khawatir untuk  menangkap ikan.

Ahmad Jahadi, asal Br. Dinas Ujung Pesisir, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, yang merupakan nelayan di Ujung Pesisi itu hampir sepekan tak melaut.

Cuaca di tengah laut tidak bersahabat. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai sekitar 1,5 meter, dan ombak cukup keras. Kecepatan angin mencapai beberapa knot.

Baca juga: Tak Kunjung Pulang Rumah, Nyoman Doble Ditemukan Tenggelam di Danau Batur Bangli

Baca juga: Bebas Visa Kunjungan Untuk 159 Negara Dicabut, Gubernur Koster Sebut Tidak Berpengaruh!

Ilustrasi - Gelombang di Perairan Karangasem lumayan  tinggi, sedangkan angin bertiup kencang. Kondisi ini mengakibatkan nelayan takut serta khawatir untuk  menangkap ikan.

Ahmad Jahadi, asal Br. Dinas Ujung Pesisir, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, yang merupakan nelayan di Ujung Pesisi itu hampir sepekan tak melaut.
Ilustrasi - Gelombang di Perairan Karangasem lumayan  tinggi, sedangkan angin bertiup kencang. Kondisi ini mengakibatkan nelayan takut serta khawatir untuk  menangkap ikan. Ahmad Jahadi, asal Br. Dinas Ujung Pesisir, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem, yang merupakan nelayan di Ujung Pesisi itu hampir sepekan tak melaut. (Tribun Bali/Eka Mita Suputra)

"Khawatir kalau turun melaut. Gelombang di tengah laut lumayan tinggi. Untuk sementara istirahat  sampai cuaca membaik. Ada juga beberapa nelayan yang memaksakan diri untuk melaut,"kata Ahmad, Jumat (16/6/2023) pagi

Hal serupa diungkapkan Romi, nelayan asal Ujung Pesisi. Saat ini nelayan memilih memperbaiki peralatan melautnya.

Pihaknya belum bisa pastikan kapan cuaca  meembaik."Kalau ikan di tengah laut ada. Kita tak berani melaut karena gelombang lumayan tinggi. Anginnya juga bertiup cukup kencang,"tambah Romi. 

Pihaknya berharap kondisi gelombang di Perairan Karangasem hingga Lombok segera membaik, sehingga nelayan bisa beraktivitas.

Apalagi  permintaan ikan cukup meningkat. Harga per ekornya capai Rp 5 sampai Rp 6 ribu. "Semoga cuaca di laut segera membaik. Biar para nelayan bisa beraktivitas,"harap Romi.

Pasokan ikan tongkol agak sedikit  di pasaran. Mengingat  nelayan tidak  melaut sejak beberapa hari karena cuaca gelombang tinggi.

Nelayan yang tak melaut sementara perbaiki peralatan melaut.  Seperti memperbaiki jaring, serta jukungnya. Ada juga beberapa terpaksa beralih pekerjaan untuk sementara.

"Nelayan masih menunggu kondisi  membaik. Semoga cuaca segera bersahabat sehingga nelayan kembali beraktivitas. Beberapa nelayan di Seraya, Bugbug, Jasri, dan Manggis juga tak melaut. Apalagi beberapa hari lalu nelayan sempat terseret gelombang,"tambahnya.

 
 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved